Friday, April 30, 2010

Wawancara dengan Komjen Pol Susno Duaji

Wawancara dengan Komjen Pol Susno Duaji, wawancara ibi dilakukan ketika komjen Pol Susno Duaji pulang ke kampung halamannya di Bumi Basemah, Pagar Alam Berikut petikan wawancara yang saya ambil dari Okezone.com, dan masyarakat Pagar Alam rindu de dengan sosok jenderal bintang tiga ini

  • Kapan terakhir mudik ke Kota Pagaralam?

    Terakhir saya pulang ke Kota Pagaralam sekitar Januari lalu.

  • Biasanya kalau mudik ke dusun, apa yang dilakukan?

    Kumpul bersama keluarga dan kerabat di dusun. Selain itu berziarah ke makam keluarga dan leluhur.

  • Sejak kapan Anda merantau ke luar Kota Pagaralam?

    Saya merantau ke luar kota sejak saya umur 11 tahun, sewaktu pindah sekolah dari SD di Dusun Tebat Gunung pindah ke SD Santo Yoseph Lahat, kala itu saya masih duduk di kelas 5 SD.

  • Kabarnya semasa di bangku sekolah dulu, selalu mendapat ranking di kelas ya?

    Alhamdulilah iya, semasa sekolah dulu, saya selalu meraih juara kelas dan juara umum, hal tersebut berkat dukungan orangtua dan harus dilakukan dengan tekun dan rajin belajar.

  • Kenangan masa kecil yang membekas dan tak pernah lupa selama masih di dusun?

    Banyak sekali kenangan di dusun ini, mulai dari saya suka berenang di sungai, sampai memancing di pauk (kolam) almarhum ayah saya Duaji dan bermain perang-perangan di hutan di dusun ini. Sewaktu masih kecil dulu, teman-teman saya sudah memberikan saya pangkat Jenderal Bintang Lima, eh ternyata impian tersebut tercapai. Selain itu, bermain perang-perang ini juga banyak sekali ceritanya, kala itu saat sedang bermain, senjata kami dari batang bambu digigit kambing yang ada di dusun.

  • Apakah benar dulu pernah menjadi kernet angkutan?

    Memang benar, dulu saya menjadi kernet angkutan umum dengan rute Pagaralam–Lubuk Buntak, kadang juga Pagaralam–Lahat. Saya kernetnya dan kakak saya, Sukadi (Wakil Bupati Lahat, Red) sopirnya. Jadi kernet ini saya lakukan setiap saya liburan sekolah, saat duduk di bangku SMA dulu.

  • Kendaraan siapa yang Bapak gunakan jadi angkutan?

    Mobil yang kami gunakan dulu adalah mobil ayah kami alm Duaji, jenis Cevrolet 1957, dan memang sebelum ayah menjabat pesirah, ayah saya dulunya adalah sopir angkot. Harga mobil yang dibeli ayah untuk menarik penumpang, seharga gabah kopi, seberat 33 ton di jaman itu. Tahun 1968-1983 ayah menjabat sebagai pesirah. Namun profesi sopir masih juga ditekuninya selama dia menjabat pesirah. Karena itu, sewaktu kami pulang liburan sekolah, selama 40 hari kami berdua menjadikan taksi itu mobil ayah.

  • Apakah benar Anda lulus Akademi Kepolisian 1974 ketika masih kelas 2 SMA?

    Ya benar, awalnya masuk Akpol, ditawari guru saya di SMA Yayasan Santo Yoseph, guru tersebut bernama Suster Leonardi. Dulu saya juga sempat diberi dua pilihan, apakah mau masuk Universitas Sriwijaya Fakultas Kedokteran atau masuk Akademi Kepolisian. Lalu saya memilih Akpol saja. Alhamdulilah, saya lulus diterima Akpol tahun 1974.

  • Apakah menjadi polisi sudah cita-cita dari kecil?

    Sebenarnya, saya ingin menjadi Polisi dari keinginan untuk mengubah paradigma sikap polisi sebagai pengayom masyarakat. Karena saat masih kecil dulu, sering kali melihat sikap arogan para polisi yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat, seperti suka pungli, tilang, membuat surat kelakuan baik harus membayar dan sebagainya.
    Kondisi inilah yang ingin saya ubah, saya berusaha agar kelak menjadi polisi tidak akan melakukan hal ini. Alhamdulilah sewaktu menjadi Kapolda Jawa Barat tahun 2007, yang namanya suap dan pungli tidak terjadi di kepolisian. Hingga saat ini, saya terus berjuang untuk memperbaiki institusi tersebut. Bukan itu saja, seluruh institusi baik kehakiman, kejaksaan, dan semuanya.

  • Terkait membongkar sindakat makelar kasus pajak ini, apakah yang menjadi motif Anda?

    Sebenarnya, yang saya lakukan ini, adalah untuk memperbaiki nasib bangsa Indonesia. Karena negara Indonesia kaya raya, namun masyarakatnya miskin. Hal ini terjadi karena banyaknya oknum pejabat di negeri ini korupsi. Kondisi inilah yang membuat hati saya tertegun, untuk merubah moral bangsa ini, dari ketidakadilan, kebohongan dan rekayasa. Karena, “I want to change an aspect morality from people of Indonesia”. Pastinya, kalau ingin mencari jabatan, dan pasti sudah lama saya melakukannya. Tapi itu bukanlah tujuan saya.

  • Apakah kasus markus Ditjen Pajak itu kasus pertama membongkar korupsi?

    Bukan, banyak sekali kasus yang saya ungkap sebelum dan sesudah menjabat sebagai Kabareskrim. Namun yang paling mencuat di permukaan, kasus Bank Century yang menyeret Wapres Budiono dan kasus Markus Dirjen Pajak Gayus Tambunan dan kroni-kroninya itu. Banyak kasus lainya seperti kasus pertanahan, cukai, pendidikan, kasus pertambangan yang akan terungkap.

  • Apakah tidak takut keselamatan jiwa terancam dalam membongkar kasus korupsi?

    Saya tidak pernah takut, sepenuhnya saya serahkan ini kepada Allah SWT. Sebelumnya saya juga pernah diancam oleh orang yang tidak dikenal pada awal Januari lalu melalui pesan singkat, tapi sedikitpun saya tidak gentar apalagi mundur dalam membongkar kasus korupsi yang ada di negera ini.

  • Bagaimana tanggapan dengan adanya tudingan korupsi pada diri Anda?

    Kalau ada yang menuding saya menerima suap dan korupsi saya siap untuk diperiksa dan silahkan dibuktikan. Bahkan ada yang menyatakan kalau sekarang Susno tengah membangun masjid di kampung halamannya dengan menghabiskan uang miliaran. Padahal, perlu diketahui, uang untuk bangun masjid itu bukan dari saya pribadi melainkan dana perkumpulan dari berbagai pihak yang ada di Jakarta termasuk donatur dari orang Pagaralam yang merantau di Jakarta, saya hanya panitia pengumpulan dana saja.

  • Kabarnya sedang membangun rumah megah di Dusun Tebat Gunung?

    Sebetulnya rumah yang ada di dusun saya itu rumah keluarga besar almarhum Duaji yang dibangun oleh anak-anaknya. Jadi bukan saya saja yang membangun rumah ini, melainkan saudara-saudara lainnya ikut membangun. Nantinya rumah tersebut dijadikan rumah persinggahan keluarga. Maklum kondisi rumah yang sekarang cukup sempit, bila ingin berkumpul dan bertemu keluarga besar kami. Jadi dibangunlah rumah ini.

  • Bagaimana perasaan setelah mudik ke Pagaralam?

    Perasaan saya senang sekali, karena bisa berkumpul bersama keluarga, dan bertemu masyarakat Bumi Besemah. Selain itu juga mengobati kerinduan saya akan kampung halaman. Karena pascapenangkapan di Bandara Cengkareng dulu, banyak sekali masyarakat bertanya-tanya kabar saya, karena itulah saya mudik dan bisa bersilahturahmi kepada keluarga dan masyarakat.

  • Bagaimana atas antusiasnya masyarakat memberikan dukungan kepada bapak dalam membongkar korupsi ini?

    Saya pribadi berterima kasih kepada masyarakat Pagaralam atas dukungan moril kepada saya dalam membongkar kasus korupsi di negeri ini. Insya Allah saya tidak akan membuat malu warga Besemah dan bangsa ini, karena yang saya lakukan adalah benar. Lebih baik saya kehilangan jabatan dan harta, jangan sampai harga diri diinjak-injak dengan kebohongan dan rekayasa. Karena itu kebenaran ini harus ditegakkan.

  • Bisa dijelaskan analogi soal bola api telah bergulir di Gunung Dempo?

    Bola api telah bergulir dari Gunung Dempo dan meluas sampai Nusantara. Saat ini Indonesia sudah menjadi sorotan Internasional. Oleh karena itu, perjuangan ini harus dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Karena kebangkitan Jagat Besemah telah kembali dan datangnya dari Putra Besemah ini bersama masyarakat Pagaralam.

  • Setelah menjadi fenomenal dan meraih penghargaan Whistle Blower Award berupa piala berbahan acrylic bening dan sertifikat bagaimana perasaan Anda?

    Penghargaan itu sebenarnya milik bangsa Indonesia. Milik rakyat miskin Indonesia yang mendukung perjuangan saya. Rasa bersyukur kepada Allah SWT, dan saya berharap dan berupaya akan terus melanjutkan perjuangan ini hingga akhir hayat, amin.

  • Sepulangnya ke Jakarta, apakah yang ingin disampaikan untuk masyarakat Pagaralam?

    Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Bumi Besemah yang selalu mendukung perjuangan saya. Saat ini juga bukan hanya warga Pagaralam yang mendukung, bahkan seluruh masysrakat nusantara hingga Internasional mendukung perjuangan orang Besemah ini. Untuk itulah, saya mohon doa dari masyarakat agar saya selalu sehat, tegar dan semangat dalam menghadapi kasus korupsi ini. Sehingga apa yang menjadi tujuan kita untuk perubahan ini bangsa ini, dapat tercapai dan Indonesia kembali bersih.

0 comments:


Post a Comment