Tuesday, April 27, 2010

GG

Satuan tugas (Satgas) Pantai Kuta terus mempersempit ruang gerak para gigolo di wilayah kerjanya sebagai langkah antisipasi terulangnya aksi para gigolo seperti dalam film dokumenter Cowboys in Paradise.

"Benar, ruang gerak mereka sudah dipersempit, kami terus lakukan pengawasan terutama terhadap mereka yang tidak jelas aktivitasnya di pantai," kata Kepala Satgas Pantai Kuta I Gusti Ngurah Tresna, Selasa (27/04/2010).

Razia yang dilakukan pasca beredarnya film yang disutradari Amit Virmani tersebut, dimaksudkan untuk mengawasi aktivitas para gigolo selama berada di pantai, agar jangan sampai menganggu kenyamanan wisatawan serta mengindahkan aturan dan norma budaya masyarakat Bali.

"Kami sudah memprogramkan untuk terus merazia terhadap pria-pria yang keberadaanya tidak jelas atau mulai mengarah praktek gigolo," kata Tresna. Sesuai kewenangan yang dimiliki maka, pihaknya hanya sebatas memeriksa kelengkapan identitas seperti KTP atau Kipem serta kartu pedagang yang diketahui pula oleh pihak Satgas.

"Dari 28 pria yang kami periksa, tidak punya aktivitas dan kelengkapan identitas jelas sehingga langsung kami bawa ke Desa Adat Kuta untuk penanganan selanjutnya," ucapnya.

Pihaknya akan terus menggelar razia di pantai, sewaktu-waktu sesuai kebutuhan atau yang dipandang perlu jika ada tanda-tanda aktivitas para gigolo. Ia mengaku belum mendapat kabar lebih lanjut dari pihak desa adat setempat, tentang bentuk pelanggaran dan tindakan apa yang dilakukan terhadap 28 pria tersebut. Namun tidak tertutup kemungkinan, mereka nantinya akan dipulangkan atau diserahkan lembaga berwenang lainnya seperti diberikan pembinaan.

Upaya memberantas praktek Gigilo di Kuta diakui cukup sulit karena mereka sulit dikenali karena nyaris tak berbeda jauh dengan pria-pria lainnya yang memang datang ke pantai untuk berselancar. "Mereka memang rata rata bermain surfing, tapi kami tidak bisa serta merta menyatakan yang bermain surfing adalah gigolo," tandasnya.

Meski dikatakan dia, dari ciri ciri fisik bisa dikenali, lewat postur tubuh atletis, kulit hitam, kaca mata pantai, rambut dicat, dan kerap menyapa turis wanita dengan tawaran mengajari surfing dan lainnya. Pihaknya masih terus mempelajari bagaimana pola gerakan para pemuas hasrat khusunya wisatawan Jepang tersebut.

Terkait praktek gigolo yang meresahkan masyarakat, pihaknya akan membicarakan dengan desa adat setempat guna mencari jalan keluar, dalam menanangkal praktek para pria yang bisa merusak citra pariwisata Bali tersebut.

Bisa jadi, kata Tresna, nantinya ada semacam ketentuan atau larangan tertulis yang akan dipasang di beberapa lokasi pantai, berisi agar para pengunjung menjaga dan menghormati norma norma dan nilai, budaya masyarakat seperti tidak melewati batas batas kesusilaan

0 comments:


Post a Comment