Thursday, August 6, 2009

TUGAS BUDIDAYA PADI DI LAHAN LEBAK

PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Lahan rawa semakin penting peranannya dalam upaya mempertahankan swasembada beras dan mencapai swasembada bahan pangan lainnya, mengingat semakin berkurangnya lahan subur untuk area pertanian di Pulau Jawa akibat alih fungsi lahan ke perumahan dan keperluan non pertanian lainnya. Potensi lahan rawa lebak di Indonesia mencapai 14 juta hektar, terdiri dari rawa lebak dangkal seluas 4.166.000 ha, lebak tengahan seluas 6.076.000 ha, dan lebak dalam seluas 3.039.000 ha (Adhi, et al., dalam Rafieq, 2004). Sebagian lahan rawa lebak ini belum dimanfaatkan untuk usaha pertanian sehingga potensi pengembangannya masih sangat besar.
Kata lebak diambil dari kosakata Bahasa Jawa yang berarti lembah atau tanah rendah (Poerwadarminto, 1976). Rawa lebak adalah wilayah daratan yang mempunyai genangan hampir sepanjang tahun, minimal selama tiga bulan dengan tinggi genangan minimal 50 cm. Rawa lebak yang dimanfaatkan atau dibudidayakan untuk pengembangan pertanian, termasuk perikanan dan peternakan disebut lahan rawa lebak. Rawa lebak yang sepanjang tahun tergenang atau dibiarkan alamiah disebut rawa monoton, sedangkan jika kedudukannya menjorok masuk jauh dari muara laut/sungai besar disebut rawa pedalaman. Atau dapat juga diartikan dengan sawah rendahan yang tergenang secara periodik sekurang-kurangnya tiga sampai enam bulan secara kumulatif dalam setahun, dan dapat kering atau lembab tiga bulan secara komulatif dalam setahun.
Rawa lebak secara khusus diartikan sebagai kawasan rawa dengan bentuk wilayah berupa cekungan dan merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atau dua tanggul sungai (levee) atau antara dataran tinggi dengan tanggul sungai. Bentang lahan rawa lebak menyerupai mangkok yang bagian tengahnya paling dalam dengan genangan paling tinggi. Semakin ke arah tepi sungai atau tanggul semakin rendah genangannya. Pada musim hujan genangan air dapat mencapai tinggi antara 4-7 meter, tetapi pada musim kemarau lahan dalam keadaan kering, kecuali dasar atau wilayah paling bawah. Pada musim kemarau muka air tanah di lahan rawa lebak dangkal dapat mencapai > 1 meter sehingga lebih menyerupai lahan kering (upland).
Lahan rawa lebak dipengaruhi oleh iklim tropika basah dengan curah hujan antara 2.000-3.000 mm per tahun dengan 6-7 bulan basah (bulan basah = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan > 200 mm) atau antara 3-4 bulan kering (bulan kering = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan <>
Bahan induk tanah rawa lebak umumnya berupa endapan aluvial sungai, endapan marin, atau gambut yang terbentuk pada periode era Holosen, yaitu sejak 10.000 sampai 5.000 tahun silam yang jauh lebih tua jika dibandingkan dengan endapan di delta sepanjang sungai yang diperkirakan terbentuk antara 2.500-3.000 tahun silam (Prasetyo et. al., 1990; Furukawa, 1994; Neuzil, 1997). Sifat fisika tanah dari lahan rawa lebak umumnya tergolong masih mentah, sebagian melumpur, kandungan lempung (clay) tinggi, atau gambut tebal dengan berbagai taraf kematangan dari mentah (fibrik) sampai matang (saprik). Lapisan bawah dapat berupa lapisan pirit (FeS2) yang berpotensi masam; atau pasir kuarsa yang miskin hara; sifat kimia, kesuburan, dan biologi tanah tergolong sedang sampai sangat jelek. Hidrologi atau sistem tata air kebanyakan lahan rawa lebak sangat buruk. Ketersediaan sarana dan prasarana tata air yang mendukung belum memadai sehingga kinerja pengatusan (drainage), pelindian (leaching), dan penggelontoran (flushing) belum mampu mempercepat perkembangan tanah.
Potensi pertanian di lahan rawa lebak cukup luas dan beragam. Watak dan ekologi masing-masing lokasi dan tipologi lahan rawa lebak merupakan faktor penentu dalam penyusunan pola tanam dan jenis komoditas yang dibudidayakan. Pola tanam dan jenis komoditas yang dikembangkan di lahan rawa lebak dapat didasarkan pada tipologi lahan.
Lahan rawa lebak sebagian besar dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya padi yang dapat dipilah dalam pola (1) padi sawah timur (sawah rintak) dan (2) padi sawah barat (sawah surung). Sawah timur pada musim hujan tergenang sehingga hanya ditanami pada musim kemarau. Sawah timur ini umumnya ditanami padi rintak, yaitu padi sawah irigasi yang berumur pendek (high yielding variety) seperti varietas IR 42, IR 64, IR 66, cisokan, ciherang, cisanggarung, mekongga, kapuas, lematang, margasari (tiga varietas terakhir merupakan padi spesifik rawa pasang surut) dengan hasil rata-rata 4-5 ton per hektar.

2. PEMBAGIAN LAHAN LEBAK

Lahan rawa lebak mempunyai ciri yang sangat khas, pada musim hujan terjadi genangan air yang melimpah dalam variasi kurun waktu yang cukup lama. Genangan air dapat kurang dari satu bulan sampai enam bulan atau lebih, dengan ketinggian genangan  50 cm – 100 cm. Air yang menggenang tersebut bukan merupakan limpasan air pasang, tetapi berasal dari limpasan air permukaan yang terakumulasi di wilayah tersebut karena topografinya yang lebih rendah dan drainasinya jelek. Kondisi genangan air sangat dipengaruhi oleh curah hujan, baik di daerah tersebut maupun wilayah sekitarnya serta daerah hulu (Ismail et al., 1993).



Berdasarkan ketinggian tempat rawa lebak dapat dibagi menjadi dua tipologi, yaitu:
(1) rawa lebak dataran tinggi
(2) rawa lebak dataran rendah.
Rawa lebak dataran tinggi/pegunungan banyak ditemukan di Sumatra dan Jawa, sedangkan rawa lebak dataran rendah (lowland) sebagian besar tersebar di Kalimantan.
Berdasarkan ketinggian dan lamanya genangan, lahan rawa lebak dapat dibagi dalam tiga tipologi, yaitu
a. Lebak dangkal adalah wilayah yang mempunyai tinggi genangan 25-50 cm dengan lama genangan minimal 3 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi nisbi lebih tinggi dan merupakan wilayah paling dekat dengan tanggul.
b. Lebak tengahan ialah wilayah yang mempunyai tinggi genangan 50-100 cm dengan lama genangan minimal 3-6 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi lebih rendah daripada lebak dangkal dan merupakan
c. Lebak dalam ialah wilayah yang mempunyai tinggi genangan > 100 cm dengan lama genangan minimal > 6 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi
Sementara petani umumnya di Hulu Sungai, Kalimantan Selatan membagi rawa lebak dengan sebutan watun (lahan rawa lebak = Bahasa Banjar), yaitu watun I, II, III, dan IV. Batasan dan klasifikasi watun didasarkan menurut hidrotopografi dan waktu tanam padi adalah sebagai berikut (Anwarhan, 1989; Ar-Riza, 2001):
1. Watun I wilayah sepanjang 200-300 depa menjorok masuk dari tanggul (1 depa = 1,7 meter). Hidrotopografinya nisbi paling tinggi
2. Watun II ialah wilayah sepanjang 200-300 depa (= 510 m) menjorok masuk dari batas akhir watun I. Hidrotopografinya lebih rendah daripada watun
3. Watun III : wilayah sepanjang 200-300 depa (= 510 m) menjorok masuk dari batas akhir watun II. Hidrotopografinya lebih rendah daripada watun II.
4. Watun IV : wilayah yang lebih dalam menjorok masuk dari batas akhir watun III. Hidrotopografinya nisbi paling rendah.

Watun I, II, III, dan IV masing-masing identik dengan istilah lebak dangkal, lebak tengahan, lebak dalam, dan lebak sangat dalam atau lebung.
Berdasarkan ada atau tidaknya pengaruh sungai, rawa lebak dibagi dalam tiga tipologi, yaitu (1) lebak sungai, (2) lebak terkurung, dan (3) lebak setengah terkurung. Batasan dan klasifikasi lebak menurut ada atau tidaknya pengaruh sungai adalah sebagai berikut (Kosman dan Jumberi, 1996):
Lebak sungai : lebak yang sangat nyata mendapat pengaruh dari sungai sehingga tinggi rendahnya genangan sangat ditentukan oleh muka air sungai.
Lebak terkurung : lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan oleh bear kecilnya curah hujan dan rembesan air (seepage) dari sekitarnya.
Lebak setengah : lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan
terkurung oleh besar kecilnya hujan, rembesan, dan juga sungai di sekitarnya.
Sawah lebak yang termasuk lebak tengahan sampai dalam (lebung) pada musim hujan tergenang cukup tinggi (> 100 cm) sehingga disebut juga sawah barat. Apabila dimanfaatkan untuk tanam padi surung maka persiapan dimulai selagi masih kering (macak-macak), yaitu sekitar bulan September-Oktober dan panen pada bulan Januari-Februari pada saat air tergenang cukup tinggi (1,0-1,5 m). Jenis padi rintak pada dasarnya adalah padi sawah umumnya yang dipersiapkan pada bulan April, tergantung keadaan genangan. Sawah barat ini umumnya ditanami sawah padi surung (deep water rice) yang waktu tanamnya sampai akhir musim kemarau dan panen saat air tinggi (100-150 cm) pada musim hujan. Padi surung atau padi air dalam ini mempunyai sifat khusus, yaitu dapat memanjang (elogante) mengikuti kenaikan genangan air dan dapat bangkit kembali apabila rebah. Kemampuan memanjang ini karena pertumbuhan akar yang terus-menerus yang pada padi sawah umumnya tidak ditemukan. Padi yang tergolong jenis padi surung ini antara lain varietas alabio, tapus, nagara, termasuk yang dikenal dengan padi hiyang.
Lahan rawa lebak dangkal dapat ditanami dua kali setahun dengan pola tanam padi surung (umur 180 hari) tanam pertama dan padi rintak (padi unggul: berumur 11-115 hari) untuk tanam kedua. Tanam pertama dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember dan panen pada bulan April, sedangkan tanam kedua antara bulan Mei-Juni dan panen pada kemarau Agustus-Oktober (Noor, 1996; Ar-Riza, 2005).
Pada musim kemarau panjang semua sawah lebak, terutama rawa lebak dangkal dan rawa lebak tengahan menjadi hamparan tanaman sayuran dan buah-buahan. Untuk lebak dalam (watun III-IV) ditanami hanya pada saat musim kemarau panjang (apabila 4-5 bulan kering), selebihnya dibiarkan karena genangan air cukup tinggi. Akan tetapi, budidaya padi di lahan rawa lebak Sumatra justru berkembang pada musim hujan, karena sebagian lahan rawa lebak sudah mempunyai sistem pengaturan yang baik. Berbeda dengan di Kalimantan, khususnya di Kaimantan Selatan, sebagian lahan rawa lebak pada musim hujan menggenang berbulan-bulan.







BUDIDAYA PADI LEBAK


Pertumbuhan tanaman padi di tanah lebak dapat berlangsung baik, asal persyaratan sebagai berikut terpenuhi:

- Dimusim kemarau
Air Tanah lebak (rawa) mengalir perlahan – lahan dan tidak dapat kering
- Di Akhir musim kemarau
Pada saat lebak kering selama 1- 2 bulan, padi diusahakan mendekati tua, sebab pada saat itu sangat baik untuk proses kematangan buah padi
- Panen
Panen harus sudah selesai pada saat air menggenangi tanah lebak di awal musim hujan

Sedangkan syarat –syarat varietas padi yang ditanam di tanah lebak adalah
 Varietas berumur pendek (genjah) yaitu 5 -5 1/2 bulan karena sangat di pengaruhi oleh kondisi air, walaupun umur padi itu genjah tapi karena proses metabolism yang lambat maka panen padi lebak akan memakan waktu yang sangat lama
 Varietas yang peka terhadap lama penyinaran
 Varietas padi unggul baru maupun varietas lokal

1. Persiapan Tanam
Dalam Persemaian padi lebak, hal –hal yang perlu dipersiapkan yaitu: Lahan (Media Pertanaman) harus dipersiapkan pada waktu yang tepat yakni dengan cara melakukan pengolahan tanah pada awal musim kemarau (sekitar bulan Maret/April)
Karena tanah lebak bertekstur Lumpur, maka pengolahan tanahnya berbeda dengan pengolahan tanah padi sawah. Pada tanah lebak pengolahan tanah tersebut cukup dengan cara membersihan tumbuhan liar saja

2. Persemaian
Dalam menyemai padi lebak, dikenal dua cara persemaian yaitu:
1. Persemaian Terapung
Yakni persemaian yang dilakukan diatas permukaan air dengan bantuan rakit, karena pada saat tinggi air pada tanah lebak masih diatas 40 cm. persemaian tersebut dapat dilanjutkan dengan persemaian lanjutan pada tanah lebak yang dangkal airnya. Persemaian semacam ini dapat dilakukan dua atau 3 kali

Cara Pelaksanaan
1. Mula –mula di buat persemaian berukuran 3 x 1 meter dengan menggunakan benih sebanyak 1 kg, yang dilakukan diatas rakit khusus untuk persemaian
2. Benih yang sebelumnya sudah dikecambahkan di tangkarkan di persemaian dengan jarak 8 x 10 cm, masing –masing 2 - 3 sendok makan, kemudian di tutup daun pisang selama 1 (satu) minggu
3. Selama bibit berumur 1 minggu, maka daun penutup tadi harus dibuang dan semai dibiarkan tumbuh tanpa pelindung
4. Bibit segera di tanam, apabila tinggi air di tanah lebak sudah menurun menjadi 30 – 40 cm dan bibit telah berumur 3 (tiga) minggu
5. Apabila tinggi air di tanah lebak masih diatas 40 cm, maka bibit masih bisa dipertahankan. Akan tetapi bibit tadi harus di pindahkan pada tanah yang dangkal airnya (20 - 30 cm)
6. Sedangkan luas persemaian yang kedua ialah 5 atau 6 kali luas luas persemaiann sebelumnya, dengan tujuan untuk penjarangan.
7. cara menyemai yang kedua dilakukan sebagai berikut:
Mula – mula ujung bibit di potong, sehingga tinggi bibit menjadi 20 -30 cm dab tiap rumpun di tanam 2- 3 bibit kedalaman penanaman (semai) 5 cm jarak tanam 15 x 15 cm
8. Persemaian ketiga dapat dilakukan, bila bibit telah berumur 20 – 30 hari di persemaian kedua tidak dapat di tanam di tanah lebak, akibat tinggi air di tanah lebak belum mencapai 30 – 40 cm .
Caranya adalah menyiapkan tanah yang airnya dangkal seluias 5 atau 6 kali persemaian yang kedua, yakni menunggu turunnya air di tanah lebak hingga mencapai 30 – 40 cm


2. Persemaian Darat
Yakni persemaian yang dilakukan diatas pematang (tepi sungai pekarangan ataupun di tanah rendah)
- Saat menyemai adalah persemaian padi lebak sebaiknya dilakukan pada bulan Pebruari
- Keperluan benih adalah benih yang dibutuhkan untuk persemaian adalah
- Persemaian terapung sebanyak 25 – 30 kg/ha
Persemaian terapung membutuhkan bibit yang lebih sedikit daripada bibit yang disemai di persemaian darat karena pada persemaian terapung kemungkinan rusaknya bibit pada waktu pencabutan sangat kecil dibandingkan dengan persemaian darat
- Persemaian Darat sebanyak 30 – 40 kg/ha

Cara penyemaian
a. Menyiapkan tanah pekarangan , pematang pinggiran sungai ata pada bagian tanah yang rendah, untuk dibersihkan dari rerumputan
b. Sebelum benih disemai, harus direndam terlebih dahulu selama 2 malam, hal ini maksudkan untuk perkecambahan
c. Membuat lubang sedalam 2 – 3 cm dengan jarak 8 – 10 cm pembuatan lubang ini dapt dilakukan dengan tugal
d. Setiap lubang dimasuki benih sebanyak 2- 3 sendok makan
e. Untuk mencegah kerusakan akibat serangan hama, hujan deras ataupun kekeringan, maka setelah benih tadi di masukan kedalam lubang, selanjutnya lubang ditutup kembali dengan menggunkan tanah ataupun daun – daun kering, daun aren dan lain sebagainya
f. Untuk persemaian tahap berikutnya (persemaian kedua dan persemaian ketiga) seperti yang dillakukan pada persemaian terapung

3. Bertanam Padi Lebak
Penanaman padi di lahan sawah lebak dapat dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi genangan air yang ada, pada prinsipnya penanaman terlebih dahulu dilakukan pada kondisi lahan yang genangan airnya sudah mulai berkurang, saat pemindahan bibit diusahakan bibit dalam kondisi masih segar untuk mengurangi terjadi stres pada tanaman. Bibit padi yang siap tanam bila bibit telah mencapai ketinggian 20 - 25 cm, dengan ketinggian 20 – 25 cm dimaksudkan penanaman dilakukan pada waktu awal musim kemarau, atau telah berumur 20 - 30 hari di persemaian, jarak tanam yang digunakan dalam budidaya tanaman padi di lahan lebak 20 x 25 cm

Agar tanaman bisa tumbuh seperti yang diinginkan, maka di dalam melakukan penanaman perlu di perhatikan hal – hal sebagai berikut
1. Umur bibit .
Pada saat umur bibit telah mencapai 50 - 90 hari dan tinggi air di tanah lebak antara 30 – 40 cm dengan ketinggian ini dimaksudkan bahwa penanaman dilakukan pada musim hujan, maka bibit dapat segera di tanam, yakni sekitar bulan juni


2. Cara memindahkan dan menanam bibit
Pada saat melakukan pencabutan bibit diusahakan agar supaya akar tidak banyak yang terputus. Kemudian ujung daun bibit tadi di potong agar tidak banyak terjadi penguapan. Dengan demikian panjang bibit menjadi sekitar 60 cm

3. Cara menanam
Penanaman dilakukan dengan cara melubangi tempat – tempat yang akan ditanami dengan alat tugal, jarak tanamnya diatur 30 x 40 cm, dan setiap lubnag ditanam 2 - 3 bibit
Apabila dibandingkan dengan penanaman padi sawah, maka cara penanaman padi lebak sangat jauh berbeda, sebab penanaman padi lebak sangat dipenagruhi oleh musim. Disini peranan musim sangat mutlak terlebih – lebih pada saat memulai tanam. Hal ini berhubungan dengan keperluan pengairan


4. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman padi di lahan sawah lebak meliputi :
- Pembersihan dari gulma/tanaman liar (penyiangan I dan II)
- Pemeliharaan dari serangan hama (PHP I dan II) seperti tikus, pengerek batang padi dan belalang,
- Pembersihan disekitar pematang dilakukan untuk mencegah serangan dari hama tikus dan dimaksudkan tikus tidak bersarang dipematang
- Pemupukan tidak dilakukan pada padi lebak karena sulit untuk menentukan berapa dosis yang dibutuhkan, dan kebutuhan untuk P sudah tersedia di alam

Dalam rangka pemeliharaan ini yang perlu dilakukan terutama ialah penyiangan , pengendalian hama dan penyakit.
Penyiangan dapat dilakukan hingga 3 kali yaitu yang disiangi adalah rumput – rumputan serta tumbuhan air lainnya. Penyiangan sebaiknya dilakukan setiap 30 hari sekali. Penyiangan pertama di mulai pada saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam.

Pengendalian hama dan penyakit di tanah lebak sama dengan cara – cara yang dilakukan untuk mengendalikan hama dan penyakit pada sistem padi sawah. Sebab jenis hama dan penyakitnya pada umumnya sama

5. Panen
Pemungutan hasil padi lebak pada umumnya dilakukan sampai tiga kali, sebab masaknya buah padi tersebut tidak serentak. Disamping itu juga untuk mengurangi hilangnya gabah akibat rontok selama pemungutan panen pertama merupakan panen yang terbesar, panen ini biasanya dilakukan pada bulan September dan oKtober. Sedangkan panen berikutnya merupakan panenan kecil. Pada saat padi dipanen , air diusahakan dalam keadaan macak – macak.
Sedangkan untuk menentukan umur panen padi di lahan sawah lebak ada beberapa cara antara lain sebagai berikut:
- Berdasarkan umur tanam. Panen dilaksanakan berdasarkan umur tanaman sesuai dengan deskripsi varietas, sekitar 105 - 125 hari setelah tanam
- Berdasarkan kenampakan. Cara ini dilakukan dengan melihat warna bulir padi yang sudah menguning dan daun bendera yang masih hijau atau mulai menguning
- Berdasarkan ketersedian tenaga kerja Lahan sawah lebak sering terjadi kebanjiran saat padi akan dipanen. Di daerah ini biasanya sulit mencari tenaga kerja, sehingga penen dilakukan bila tenaga panen telah tersedia, walaupun padi belum matang optimal.

6. Pasca Panen
Perlakuan pasca panen terhadap hasil kegiatan panen padi sawah lebak meliputi :
- Pembangunan pondok untuk hasil panen
- Pengeringan hasil panen
- Penyimpanan hasil panen
- Transportasi hasil panen
















PEMBAHASAN

Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani utamanya petani padi baik pada lahan irigasi, tadah hujan,lahan kering, lahan rawa pasang surut dan rawa lebak. Namun sampai sekarang 60 % produksi nasional masih dipasok dari lahan-lahan subur di Pulau Jawa yang notabene adalah lahan irigasi. Sedangkan lahan-lahan di luar Jawa terutama lahan rawa lebak masih dipandang sebagai lahan marjinal, sehingga perhatian masih sangat kurang yang beraikbat pada
produksi maupun kontribusnya masih kurang. Kedepan, nampaknya produksi beras nasional tidak akan cukup hanya dipasok dari lahan-lahan subur saja, mengingat perkembangan penduduk yang masih besar 1,5%, sementara pertanian pada tahun 2006 baru mencapai 0,89% untuk Pulau Jawa dan 1,91% untuk Luar Jawa. Sehingga upaya peningkatan produksi sebesar dua juta ton dalam program P2BN tentu akan sulit dicapai tanpa mengikutkan sertakan lahan rawa lebak yang punya potensi sangat besar, tetapi pemanfatannya belum optimal (Alihamsyah dan Ar-Riza, 2004). Hal tersebut akan mejadi semakin nampak jika dikaitkan dengan berbagai kendala/masalah yang dihadapi dalam tahun-tahun terakhir. Menurut Pasaribu, 2007 sedikitya ada sembilan masalah yang dihadapi: (1) Degradasi lahan dan air, luas lahan yang rusak diperkirakan sudah mencapai luas dua juta hektar akibat dari berbagai sebab, diantaranya karena salah kelola, terlanda pencemar lingkungan baik oleh penggunaan kimia pertanian yang berlebih atau buangan limbah industri, (2) Alih fungsi lahan, tingkat kecepatannya sangat merisaukan 150.000ha/th, sementara kemampuan mencetak sawah hanya 5000-6000 ha/th, (3) Fragmentasi lahan pertanian, sebagai akibat sistem budaya membagi waris termasuk luasan sawah yang sudah sempit menjadi semakin terbagi-bagi, (4) Krisis infra struktur, infra struktur merupakan komponen sistem pertanian yang amat vital untuk mendukung keberhasilan sistem pertanian yang dulaksanakan, utamanya adalah jaringan irigasi yang saat kini diperkirakan sekitar 45% jaringan yang ada dilahan irigasi pada kondisi rusak dan 68-70% jaringan saluaran air yang ada di lahan pasang surut juga rusak. Sementara program pembanguan jaringan baru maupun rehabilitasi sampai kini masih terkendala, (5) Variabilitas Iklim, pada decade terakhir ini telah terjadi perubahan iklim yang signifikan yang variabilitasnya cukup besar, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya cekaman kekeringan disuatu wilayah dan justru kebanjiran di wilayah lainnya. Cekaman lingkungan akibat perubahan iklim yang melanda wilayah pertanian akibatnya tidak hanya dapat menurunkan produktivitas pertanian, tetapi juga kerusakan baik lahan maupun sistem pertaniannya. Selain tidak jarang memicu timbulnya eksplosi organisme pengganggu tanaman (OPT), sehingga jika tidak diantisipasi dengan baik akan berpotensi menimbulkan gangguan stabilitas hasil yang serius, (6) Krisis SDM pertanian, untuk menghela pembangunan pertanian seperti yang diinginkan dalam program pembangunan pertanian tentu diperlukan tenaga pertanian yang handal, sementara sekitar 77% tenaga pertanian sudah pada kondisi usia tua, (7) Krisis sarana produksi, pemanfaatan teknologi masih jauh panggang dari api, adalah salah satu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dan memprihatinkan. Adanya kenyataan bahwa penggunaan bibit unggul baru, baru mencapai angka 31 % suatu angka yang masih rendah, diamping itu penyebaran pupuk bersubsidi tidak/belum dapat menjangkau seluruh petani, (8) Krisis pembiayaan, petani pada umumnya belum mampu menerapkan
teknologi bertani maju karena terbentur pembiayaan, sementara untuk sektor ini masih relatif kecil dan upaya pengayaan modal petani masih harus dilakukan terus menerus, (9) Kualitas produksi, pada era globalisasi yang tidak akan bisa dicegah maka masalah kualitas produksi akan menjadi ukuran yang harus dipenuhi agar produk pertanian kita mampu bersaing,oleh karena itu upaya kearah peningkatan kualitas perlu diprogramkan dengan baik. Kondisi yang dipaparkan di atas, memang cukup merisaukan masa depan sistem pertanian kita. Sebenarnya petani kita, utamanya petani padi lahan rawa lebak, telah mempunyai setumpuk pengalaman yang diperoleh dari berbagai pengamatan dan kegiatan yang telah dikerjakan dalam masa yang lama dari generasi ke generasi, sehingga mempunyai kearifan dalam mengatasi berbagai masalah lingkungan, yang sering disebut sebagai ”kearifan ekologi” maupun ”kearifan lokal” (Soemarwoto,1982). Sehingga kearifan lokal tersebut sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan inovasi teknologi baru dalam memajukan pembangunan pertanian. Fenomena munculnya padi organik sebagai salah satu upaya pemenuhan kualitas produksi yang akhir-akhir ini mulai bergema, sebenarnya telah lama dilaksanakan oleh petani lahan rawa dan terbukti mampu mempertahankan daya dukung lahan, sehingga tidak mengalami degradasi dan tetap lestari walaupun pada rerata hasil yang belum tinggi
Keberhasilan usaha tani padi di lahan rawa lebak sangat ditentukan oleh kondisi cuaca setempat dan wilayah sekitarnya terutama daerah hulu, yang akan berpengaruh langsung pada kondisi air rawa. Air rawa yang menyurut secara perlahan akan sangat memudahkan bagi petani untuk menentukan
saat tanam yang tepat, tetapi sebaliknya air rawa yang menyurut berfluktuasi tidak teratur akibat curah hujan yang sangat fluktuatif akan menyulitkan petani dalam menentukan saat tanam yang tepat (Ar-Riza 2000). Pemilihan lokasi dan penentuan saat tanam yang tidak tepat utamanya untuk
pertanaman padi surung akan membawa resiko gagal panen akibat terkena cekaman redaman air akibat air rawa yang terus meninggi. Pada budidaya musim kemarau, kondisi air rawa
yang menyurut secara perlahan akan sangat memudahkan bagi petani untuk menentukan saat tanam yang tepat, tetapi sebaliknya air rawa yang menyurut berfluktuasi tidak teratur akibat curah hujan yang sangat fluktuatif akan menyulitkan petani dalam menentukan saat tanam yang tepat (Ar-Riza,2000 dan Alihamsyah dan Ar-Riza, 2004). Penentuan saat tanam yang terlambat akan membawa resiko gagal panen akibat terkena cekaman kekeringan pada saat menjelang berbunga, sedangkan saat tanam yang terlalu cepat, akan membawa resiko terendamnya bibit yang baru ditanam, akibat air rawa yang naik kembali karena curahan hujan yang masih fluktuatif. Hasil padi rintak umumnya lebih tinggi dibanding banding surung,berkisar 3-4 t/ha namun berdasar potensinya hasil tersebut masih relative rendah (Ar-Riza dan Alihamsyah, 2005)
Kendala utama yang dihadapi dalam budidaya padi adalah fluktuasi perubahan tinggi air rawa yang sering sangat besar dan mendadak, tidak jarang terjadi bibit yang baru ditanam tenggelam dan mati. Sehingga pemilihan lokasi dan penentuan saat tanam adalah dua hal yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan budidaya padi surung. Oleh karena kendala–kendala tersebut, luas pertanaman padi relatif lebih sedikit dibanding dengan luas pertanaman padi rintak (Ar-Riza, 2000). Hasil padi urung masih relatif lebih rendah (2,0-3,0 t/ha), hal ini disebabkan kegiatan
pemupukan tidak dapat dilaksanakan secara sempurna, terutama jika kondisi airnya cukup dalam. Cara pemupukan pada budidaya padi umumnya masih dilakukan dengan cara sebar metara, sehingga kesempatan memupuk hanya ada pada saat tanam, dan jika waktu tersebut terlewatkan maka
kesempatan memupuk tersebut hilang, karena setelah air menjadi dalam pemupukan dengan cara sebar tidak lagi efektif (Ar-Riza 1992, Waluyo dan Supartha 1994)













KESIMPULAN
Lahan rawa lebak memiliki potensi dan prospek besar untuk di manfaatkan sebagai areal produksi pertanian, khususnya padi dan merupakan salah satu pilihan strategis bagi peningkatan produksi pangan nasional dan dapat dijadikan sebagai lahan abadi untuk mempertahankan produksi pangan nasional.
Petani lokal lebak lahan rawa lebak, sejak lama dan sudah lebih dari ratusan tahun memanfaatkan lahan rawa untuk bercocok tanam padi, palawija dan berbagai jenis tanaman hortikultura. padi merupakan tanaman utama dan dapat di kembangkan hampir lebak semua jenis lahan rawa lebak dari lahan lebak rawa dangkal sampai ke lahan rawa lebak dalam. Dengan memahami kondisi lingkungannya dan belajar dari pengalaman, petani telah berhasil mengembangkan lahan rawa lebak menjadi daerah pertanian yang subur dan berproduktivitas tinggi, ramah lingkungan dan kelestarian produksi tetap tinggi yang berlangsung hingga sampai sekarang ini
















DAFTAR PUSTAKA

Noor, Muhammad. 2007. Rawa Lebak: Ekologi, Pemanfaatan, dan Pengembangannya. Jakarta: Raja GrafindoPersada.

Rafieq, Achmad. 2004. Sosial Budaya dan Teknologi Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengembangan Pertanian Lahan Lebak di Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan.

1 comments:

shine said...

msi bingung


Post a Comment