Saturday, August 8, 2009

tugas budidaya jagung dan sorgum

I. Latar Belakang
Jagung
Di Indonesia jagung memegang peranan kedua sesudah padi. Sebagai bahan makanan, gizi jagung tidak kalah bila dibandingkan dengan beras. Jagung dapat digunakan untuk makanan ternak, bahan dasar industri, minuman dan lain-lain. Dengan terus meningkatnya pertumbuhan penduduk serta berkembangnya usaha peternakan dan industri yang menggunakan bahan baku jagung, maka kebutuhan jagung akan semakin meningkat.
Prospek usaha tani tanaman jagung cukup cerah bila dikelola secara intensif dan komersil. Permintaan pasar dalam negeri dan peluang ekspor komoditi jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun non pangan.
Produksi jagung muda banyak digunakan oleh manusia sebagai bahan makanan serta minuman dan pipilan jagung kering banyak digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Industri makanan ternak semakin berkembang sejalan dengan permintaan peternak. Jenis ternak yang memerlukan jagung dalam jumlah yang besar pada komposisi ransumnya adalah ayam. Jagung yang diberikan dapat berupa pipilan jagung kering, jagung giling, dan limbah industri pengolahan minyak jagung berupa bungkil jagung. Pada fase pertumbuhan (grower) komposisi jagung dalam ransum berkisar 45% dan fase berproduksi (layer) berkisar 38%.
Dengan adanya kebutuhan para peternak ayam akan pipilan jagung kering maka untuk dapat memenuhi kebutuhan pipilan jagung kering yang semakin meningkat pembudidayaan jagung dapat dilakukan dengan pengunaan pupuk hijau untuk menghemat biaya pupuk yang mahal.
Jagung (zeamays), merupaan famili graminae, adalah tanaman semusim berbentuk rumput. Tumbuhnya tegak, daun berbentuk pita, batang bewarna hijau, berbentuk bulat dengan penempang melintang 2 - 2,5 cm. Tinggi tanaman bervariasi antara 125 – 250 cm dan batangnya berbuku-buku yang dibatasi oleh ruas-ruas (suprapto, 1999).
Bunga jantan berbentuk bulir yang berkumpul pada ujung tanaman yang disebut malay, bunga betina terletak pada ketiak daun juga disebut tongkol. Tanaman jagung berbiji monokotil dan tersusun pada tongkol (Effendi dan Nursulistiati, 1991).
Perakaran jagung terdiri atas akar primer, akar lateral, akar horizontal dan akar udara. Akar primer adalah akar yang pertama kali muncul pada saat biji berkecambah dan tumbuh. Akar lateral merupakan akar yang memanjang kesamping. Akar udara adalah akar yang tumbuh dari bulu bulu diatas permkaan tanah (Danarti dan Najiyati, 2000)
Tanaman jagung termasuk tanaman semusim (annual) yang mempunyai akar rambut yang menyebar kesamping dan kebawah pada lapisan tanah sepanjang 25 cm.

Sorgum
Tanaman sorgum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman graminae yang mampu tumbuh hingga 6 meter. Bunga sorgum termasuk bunga sempurna dimana kedua alat kelaminnya berada di dalam satu bunga. Bunga sorgum merupakan bunga tipe panicle (susunan bunga di tangkai). Rangkaian bunga sorgum berada di bagian ujung tanaman.
Bentuk tanaman ini secara umum hampir mirip dengan jagung yang membedakan adalah tipe bunga dimana jagung memiliki bunga tidak sempurna sedangkan sorgum bunga sempurna. Morfologi dari tanaman sorgum adalah:
1. Akar : tanaman sorgum memiliki akar serabut
2. Batang : tanaman sorgum memiliki batang tunggal yang terdiri atas ruas-ruas
3. Daun : terdiri atas lamina (blade leaf) dan auricle
4. Rangkaian bunga sorgum yang nantinya akan menjadi bulir-bulir sorgum.
Pada daun sorgum terdapat lapisan lilin yang ada pada lapisan epidermisnya. Adanya lapisan lilin tersebut menyebabkan tanaman sorgum mampu bertahan pada daerah dengan kelembaban sangat rendah. Lapisan lilin tersebut menyebabkan tanaman sorgum mampu hidup dalam cekaman kekeringan.
KLASIFIKASI TANAMAN
Jagung
Jagung merupakan tanaman semusim determinat, dan satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk pertumbuhan generatif. Tanaman jagung merupakan tanaman tingkat tinggi dengan klasifikasi sebagai berikut:
- Kingdom : Plantae
- Divisio : spermatophyte
- Sub division : angiospermae
- Kelas : monocotyledone
- Ordo pales : glumiflorae
- Famili : Poaceae (graminae) G
- Genus : zea
- Spesies : Zeamays L (Rukmana, 1997)

Sorgum
Tanaman sorgum merupakan tanaman graminae yang memiliki taksonomi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivision : Spermatophyta
Division : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Subclass : Commelinidae
Order : Cyperales
Family : Poaceae (Grass)
Genus : Sorghum
Spesies Sorghum bicolor
Dari spesies Sorghum bicolor itu sendiri dapat dibagi lagi menjadi 3 yaitu Sorghum bicolor ssp. arundinaceum (sorgum liar) Sorghum bicolor ssp. bicolor (sorgum yang telah dibudidayakan) Sorghum bicolor ssp. drummondii (Sudangrass)

3.1.1. Pengadaan Benih

Benih yang digunakan adalah benih hibrida. Jumlah benih yang dibutuhkan adalah 1,2 kg namun untuk keperluan benih untuk penyulaman sehingga benih yang digunakan menjadi 1,250 kg. Kebutuhan benih dipengaruhi oleh jarak tanam.

3.1.2. Persiapan Lahan

Persiapan lahan perlu diperhatikan karena sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Lahan yang digunakan di ukur dengan panjang 20 m dan lebar 20 m. Adapun tahap yang dilakukan pada persiapan lahan adalah: Pengolahan tanah dilakukan sebanyak dua kali dimana pengolahan pertama dilakukan dengan traktor tujuannya untuk membalik tanah supaya benih gulma yang masih dalam keadaan dormansih dan patogen di dalam tanah mati, setelah pengolahan pertama tanah dibiarkan selama satu minggu kemudian lakukan pengolahan lahan kedua yang dilakukan dengan menggunakan cangkul dan garu. Tujuan pegolahan tanah yang ke dua adalah membuang rumput dan meratakan tanah. Setelah pengolahan tanah kedua, maka buat bedengan dengan ukuran lebar 19 m, panjang 19 m, tinggi bendengan 20-30 cm dan lebar drainase 50 cm. Berikut ini gambar lahan telah diolah yang dapat dilihat pada Gambar 6.
3.1.3. Penanaman

Penanaman dilakukan setelah bokashi ditebarkan ke lahan lalu dibiarkan selama 3-4 hari dan baru bisa dibuat lubang tanam diatasnya dan dapat ditanam benih. Jarak tanam yang digunakan adalah 75 x 25 cm. Lubang dibuat dengan tugal dengan kedalaman 3-5 cm. Benih dimasukkan 2 butir/lubang. Pemberian pupuk urea dengan dosis 1,8 kg/400 m2 diberikan 1/3 bagian pada saat tanam 2/3 diberikan pada saat tanaman berumur 1 bulan, pupuk SP-36 diberikan dengan dosis 2,58 kg/400 m2 diberikan semuanya pada saat penanaman. Cara pemberian yaitu dengan cara tugal atau larikan di sepanjang baris lubang untuk benih jagung dengan jarak 5 cm dan kedalaman 7 cm, lubang dibuat di kiri dan kanan lubang tanam, pupuk urea diberikan disebelah kanan dan SP-36 disebelah kiri kemudian pupuk dimasukkan ke dalam lubang dengan dosis yang merata untuk tiap barisan dan ditutup dengan tanah.

3.1.4. Pemeliharaan
1. Penyulaman
Penyulaman dilakukan satu minggu setelah tanam dengan cara mengganti benih yang tidak tumbuh atau tidak tumbuh atau tumbuh abnormal dengan benih jagung baru. Penyulaman paling lambat lebih dari 15 hari setelah tanam dan ini akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman jagung tidak merata dan akan menyulitkan kegiatan pemeliharaan.
2. Penyiangan dan Pembubunan
Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman jagung berumur ± 15 hari setelah tanam atau pertumbuhan tanaman mencapai setinggi lutut. Alat Bantu penyiangan dapat menggunakan kored, dan cangkul.
Tujuan pembubunan adalah memperkokoh batang tanaman jagung agar tidak mudah rebah atau jika ada angin besar, merangsang pembentukan akar secara leluasa, dan untuk memperbaiki drainase dan mempermudah pengairan jika diperlukan.
Penyiangan dan pembubunan keduanya dilakukan pada waktu tanama jagung berumur 40 hari setelah tanam. Berikut ini gambar penyiangan dan pembumbunan yang dapat dilihat pada Gambar 6.

3. Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan. Cara pemberian yaitu dengan cara tugal atau larikan di sepanjang baris lubang untuk benih jagung dengan jarak 5-7 cm dan kedalaman 7-10 cm, lubang dibuat di kiri dan kanan lubang tanam, pupuk urea diberikan disebelah kanan dan SP-36 disebelah kiri kemudian pupuk dimasukkan ke dalam lubang dengan dosis yang merata untuk tiap barisan dan ditutup dengan tanah. Pupuk yang diberikan adalah pupuk Urea dengan dosis 1,8 kg/400 m2 dan diberikan 2/3 bagian karena 1/3 sudah diberikan pada saat penanaman.



4. Panen dan Pasca Panen
Ciri-ciri tongkol jagung siap dipanen adalah sebagai berikut:
a. Tongkol berumur 7-8 minggu setelah ke luar bunga.
b. Kelobot tongkol sudah berwarna kuning atau putih kekuning-kuningan.
c. Pipilan jagung kering bewarna kuning, putih atau kemerah-merahan (sesuai dengan karakter varietas), dan penampakannya mengilap.
d. Bila biji ditekan dengan tangan tidak meninggalkan bekas melekuk, artinya sudah padat (kompak).
e. Kadar air dalam biji sudah mencapai 35-40 %.
Penanganan pasca panen adalah:
a. Jagung dikupas pada saat masih menempel dibatangnya
b. Pengeringan dilakukan 2 kali yaitu pada saat sebelum dipipil dan sesudah dipipil, tujuan pengeringan ke-2 adalah agar memudahkan penjemuran dan hasilnya lebih rata. Kadar air pada jagung yaitu 9% - 12%.
c. Pemipilan dilakukan dengan mesin.
d. Pipilan jagung kering dikemas kedalam karung goni dan diikat dengan tali rapia dan langsung pasarkan.

Waktu tanam
Ditanam pada awal musim hujan, penentuan waktu tanam yang tepat agar memperhitungkan masa masaknya biji jatuh pada musim kemarau. Hal ini untuk menghindari kerusakan pada saat pembungaan dan menghindari serangan cendawan.

Pengolahan tanah

Bertujuan untuk menggemburkan tanah, meningkatkan aerasi dan memberantaas gulma. Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan memakai cangkul, membajak dengan ternak, traktor atau tanpa olah.

Penanaman

• Untuk tanaman monokultur diperlukan benih 10-15 kg/ha.
• Jarak tanam untuk monokultur
- 75 x 40 cm: 4 tanaman/lubang.
- 75 x 20 cm: 2 tanaman/lubang.
• Jarak tanam untuk tumpangsari
- Stripcropping (1 baris): 200 x 25 cm.
- Stripcropping (> 2 baris): 75 x 25 x 400 cm.
• Benih ditanam cara tugal sedalam 4-5 cm (5-12 biji/lubang).

Pemupukan

• Urea, TSP/SP36, dan KCl.
• Pemupukan dengan ditugal di samping kiri dan kanan tanaman dengan jarak 7 cm.
• Pemupukan dilakukan dua tahap, yaitu 1/3 bagian takaran urea + seluruh TSP dan KCl diberikan pada
umur 7-10 hari dan 2/3 bagian urea diberikan pada umur tanaman 21 hari.

Pengendalian hama dan penyakit

• Tanaman sorghum lebih banyak permasalahan hama dibanding penyakitnya.
• Lalat bibit (Atherigona soceata).
• Ulat penggerek batang (Basiola fusca).
• Ulat penggerek malai (Crytoblabes gnidiella).
• Hama burung.
• Hama Calandra dan Sytophilus.

Panen

• Dilakukan setelah biji masak optimal yang ditandai dengan daun menguning, biji pecah apabila digigit.
• Sorgum dipanen dengan cara memangkas 10-15 cm di bawah malai. Setelah panen dikeringkan
agar mudah dalam perontokannya.
• Perontokan dilakukan dengan cara memukul secara terus menerus sampai biji keluar dari malainya.
Dapat digunakan mesin perontok khusus sorgum.
• Kadar air saat perontokan tidak boleh lebih dari 15%.
2.2. Teknologi Budidaya Sorgum
2.2.1. Persiapan Tanam
Meskipun budidaya sorgum secara umum sangat mudah dan sorgum lebih mudah tumbuh dibanding tanaman lainnya, tetapi untuk mengoptimalkan hasil dan secara usaha tani bisa lebih menguntungkan, maka diperlukan teknologi budidaya/ Pengeloaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) yang tepat. Pada prinsipnya sorgum dapat tumbuh pada semua jenis tanah, bahkan di tanah yang kurang subur atau minim pasokan air, tanaman sorgum masih dapat tumbuh. Semua tanah yang sesuai untuk pertanaman jagung, juga dapat digunakan untuk pertanamanan sorgum. Hal yang perlu perhatian dalam persiapan adalah menentukan waktu tanam. Prinsipnya sorgum untuk diambil bijinya, sebaiknya waktu panen bukan pada musim penghujan. Hal penting lain yang harus diperhatikan dalam persiapan lahan tanam adalahi:
a) Ketinggian tempat optimum untuk pertanaman sorgum kurang lebih 0 – 500 dpl. Semakin tinggi tempat pertanaman akan semakin memperlambat waktu berbunga dari tanaman sorgum. Temperatur 25oC – 27oC adalah suhu terbaik untuk perkecambahan biji sorgum, sedangkan untuk pertumbuhannya perlu suhu sekitar 23oC – 30oC;
b) Hindari pemakaian tanah yang masam dengan kandungan Al, Fe maupun Mg yang tinggi, seperti tanah podzolik merah kuning, karena sorgum tidak tahan tanah masam. pH optimum tanah untuk pertumbuhannya sekitar 6.0 – 7.5.
c) Memperhatikan tekstur tanah. Untuk lahan beririgasi dengan kelembaban tinggi biasanya tekstur tanahnya sedang sampai berat dan perlu dilakukan pencangkulan pada baris-baris yang akan disgunakan sebagai lubang tanam. Tetapi untuk tanah yang berstektur sedang sampai ringan, pengolahan lahan dapat dilakukan seminimum mungkin tanpa mengurangi hasil. Secara umum hasil akan meningkat sekitar 20% – 30% bila dilakukan pengolahan tanah sempurna untuk tanah yang berstektur sedang sampai berat.
2.2.2. Penanaman
a) Pengairan. Sorgum tanaman yang tahan kering, sehingga pengairan bukan masalah yang utama dalam pertanaman sorgum. Kebutuhan akan air yang paling banyak hanya diperlukan pada awal-awal pertumbuhan (1 – 2 minggu setelah tanam). Adapun periode kritis tanaman sorgum adalah pada masa perkecambahan, berbunga dan waktu pengisian biji. Pada kondisi ketersediaan air sangat terbatas pada waktu tanam, guludan atau larikan-larikan untuk lubang tanam sebaiknya disiram terlebih dahulu sebelum tanam sampai cukup basah (20 – 50 cm). Kondisi kelembaban tanah di jaga terus sampai perkecambahan. Penyiraman dapat dilakukan selang 2 – 3 hari sekali bila sama sekali tidak turun hujan pada awal pertumbuhan. Air dalam tanah sampai kedalaman kurang lebih 2.5 cm, maksimum dapat memenuhi kebutuhan air selama 3 – 4 hari bagi tanaman sorgum pada periode pembentukan biji.
b) Pengolahan tanah dan penanaman
• Bisa dilakukan minimum tillage dengan mongolah tanah pada barisan tanam saja. Pengolahan tanah sebaiknya 1 – 2 minggu sebelum tanam.
• Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan jarak tanam adalah: i) jenis/varietas sorgum yang akan ditanam; ii) ketersediaan air dan kesuburan lahan; iii) tujuan pemanfaatan dari tanaman sorgum; iv) pola tanam.
Dari dua hasil penelitian jarak tanam pada sorgum, peningkatan populasi tanaman per ha telah dapat meningkatkan hasil biji sorgum. Secara umum lubang tanam sorgum dibuat pada jarak 70 cm x 20 cm dengan dua tanaman per lubang tanam atau 70 cm x 10 cm dengan satu tanaman per lubang tanam. Hasil biji sorgum telah meningkat 1.5 kali pada jarak tanam 70cm x 10cm. Untuk lahan beririgasi baik jarak tanam dapat dibuat sekitar 50 cm x 30 cm. Untuk tanah yang kurang subur dan tidak beririgasi, sebaiknya digunakan jarak tanam yang lebih lebar (75 cm x 25 cm) atau populasi tanaman dikurangi per ha. Populasi optimum untuk jarak antar baris tanam 70 cm dengan 1 – 2 tanaman/ lubang sekitar 142.857 – 285.714 tanaman/ ha.
• Kebutuhan biji per Ha secara umum ditentukan oleh komponen: (i) luas lahan yang akan ditanami, (ii) jarak tanam, (iii) jumlah biji per lubang tanam, (iii) persen daya kecambah benih, (iV) persen benih yang tumbuh, dan (v) bobot benih per 1000 biji (gram). Untuk tanah dengan kondisi air kurang, sebaiknya ditanam lebih banyak biji per lubang tanamnya, untuk menghindari biji yang tidak tumbuh karena lingkungan yang tidak optimal. Umumnya perbedaan persentase perkecambahan di laboratorium dan lapangan biasanya berkisar sekitar 30% – 50% pada kondisi viabilitas benih sangat baik. Untuk jarak tanam 70cm x 20cm dengan ukuran biji sedang, membutuhkan biji sekitar ± 5 – 7 kg/Ha.
• Biji ditanam dengan cara ditugal dengan 3 – 4 biji per lubang tanamnya. Setelah tanaman berumur 3 minggu bisa dilakukan penjarangan dengan menyisakan 2 – 3 tanaman per lubang tanamnya.
c) Pemupukan. Meskipun sorgum dapat tumbuh pada lahan kurang subur, namun tanaman sorgum sangat tanggap terhadap pemberian pupuk kandang dan pupuk nitrogen. Respon terbesar kedua adalah pada pemumupukan fosfor dan yang ketiga adalah pada pemupukan kalium. Dosis pemupukan tergantung dari tingkat kesuburan lahan, namun demikian secara umum dosis yang dapat dipakai untuk lahan irigasi adalah 100 – 180 kg Nitrogen, 45 – 70 kg P2O5 dan K2O. Pemerintah menganjurkan penggunaan 200 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 50 kg KCl. Pupuk urea diberikan dua kali yaitu 1/3 pada waktu tanam bersamaan dengan SP-36 dan KCl, sisanya 2/3 pupuk Urea diberikan setelah tanaman berumur satu bulan. Pupuk diberikan dengan cara dibuat larikan sejauh ± 7-15 cm sebelah kanan dan kiri dari lubang tanam. Urea dan SP-36 dimasukkan dalam satu lubang, sedangkan KCl pada lubang yang lainnya. Penambahan pupuk kandang sebanyak 5 ton/ha telah meningkatkan hasil biji sorgum.
d) Penyiangan dan Pembumbunan. Penyiangan hanya perlu dilakukan pada awal pertanaman saja dan setelah tanaman cukup besar, penyiangan bisa tidak dilakukan.
e) Pengendalian Hama dan Penyakit. Dilakukan terutama pada hama dan penyakit penting pada sorgum. Hama penting yang kemungkinan dapat menyerang pada pertanaman sorgum dan pengendaliannya adalah :
• Valanga sp. (belalang) yang menggerek daun, dan hama Aphid yang menyerang daun bendera saat pembentukan malai. Adapun pengendalian hama-hama ini dilakukan dengan penyemprotan insektisida Curacron dengan konsentrasi 2 ml.L-1.
• Hama lainnya adalah burung yang menyerang malai yang sudah terbentuk biji. Serangan hama ini berpengaruh besar terhadap pengurangan hasil tanaman sorgum. Pengendalian hama burung dilakukan dengan cara menutup barisan tanaman dengan kain saring yang dilekatkan pada bambu atau dengan cara tradisional membuat oran-orangan.
Penyakit penting pada sorgum dengan pengendaliannya adalah :
• Bercak daun Cereospom yang disebabkan oleh jamur Cercospora sorghi dengan gejala berupa bercak-bercak pada daun-daun tua yang meluas ke atas kemudian memanjang terbatasi oleh tulangtulang;
• Penyakit hawar daun disebabkan oleh jamur dengan gejala penyakit yaitu terdapat bercak-bercak jorong yang memanjang, membentuk bercak kering yang cukup besar, jika menyerang biji akan terlihat kering dan berwarna merah kehitam-hitaman.
• Antraknos yang disebabkan oleh jamur C falcatum dengan gejala berupa bercak-bercak kecil berwarna kehitaman dengan bintik kuning pada tepi daun. Infeksi penyakit ini juga menjalar pada malai yang menyebabkan biji-biji sorghum menjadi busuk, berwarna hitam dan berkecambah sebelum waktunya.
2.3. Panen dan Pascapanen
2.3.1. Panen
Biji sorgum bisa dipanen bila telah keras dengan memotong malainya, biasanya ± 45 hari setelah bakal biji terbentuk. Biji mudah dirontokkan dari malai bila kandungan airnya telah mencapai ±25% – 30%. Curah hujan yang tinggi pada saat tanaman siap panen dapat menyebabkan biji berkecambah di lapangan.
Untuk budidaya ratoon, setelah malai dipanen, tanaman dipotong dengan meninggalkan satu buku (15cm – 20cm dari permukaan tanah). Dipilih 2 sampai 3 tunas baru yang keluar untuk terus ditumbuhkan. Tunas yang lainnya dibuang. Setelah tunas mencapai ukuran 20cm, tanah sekitar tunas digemburkan dan dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK sebanyak 200 kg/ha. Tanaman dari ratoon jika dipelihara dengan baik dapat menghasilkan jumlah biji seperti induknya. Ratoon bisa dilakukan sampai dua kali dan jika hasilnya sudah menurun sebaiknya tanaman dibongkar dan menanam kembali dari biji.
2.3.2. Pascapanen
a) Pengeringan. Biasanya pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran selama ± 60 jam hingga kadar air biji mencapai 10% – 12%. Kriteria untuk mengetahui tingkat kekeringan biji biasanya dengan cara menggigit bijinya. Bila bersuara berarti biji tersebut telah kering.
b) Perontokan. Perontokan secara tradisionil dilakukan dengan pemukul kayu dan dikerjakan di atas lantai atau karung goni. Pemukulan dilakukan terus menerus hingga biji lepas. Setelah itu dilakukan penampian untuk memisahkan kotoran yang terdiri dari daun, ranting, debu, atau kotoran lainnya. Kadar air tidak boleh lebih dari 10% – 12% untuk mencegah pertumbuhan jamur.
3) Penyimpanan. Biji yang telah bersih dan kering dapat disimpan dalam kaleng yang kemudian ditutup rapat sehingga kedap udara. Bila biji disimpan dalam ruangan khusus penyimpanan (gudang), maka tinggi gudang harus sama dengan lebarnya supaya kondensasi uap air dalam gudang tidak mudah timbul. Dinding gudang sebaiknya terbuat dari bahan yang padat sehingga perubahan suhu yang terjadi pada biji dapat dikurangi. Tidak dianjurkan ruang penyimpanan dari bahan besi, karena sangat peka terhadap perubahan suhu. Permasalahan utama penyimpanan biji di gudang adalah serangan hama kutu (hama gudang). Hama ini dapat dicegah dengan fumigasi.


BAB. III HASIL PENGAMATAN

Hasil Pengamatan terhadap terhadap tanaman jagung Manis, Jagung Hibrida dan sorgum dapat diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Saat berkecambah pada Jagung Manis, sorgum dan Jagung Hibrida
Tanaman

5 comments:

Anonymous said...

Hi all,

my friend told me about this forum so i decided to sign up.

hopefully i can participate in some lively discussions here!

looking forward to talking to you all. :)

[IMG]http://www.trueimagehost.com/1/m/47xFMd46ie7B/blank.gif[/IMG]

Anonymous said...

hey ..

I am new here and i found this forum really intersting , i have been keepp visiting this forum and reading since ages finally i decided to join .
hope to see some more cool stuff in the future
[url=http://getfreezetaclear.com]zetaclear[/url]

Anonymous said...

Greetings

It is my first time here. I just wanted to say hi!

Anonymous said...

This blog really hard to read.
no space.

:(

Anonymous said...

Patio furniture from boots and shoes, design North Face Jackets by [url=http://thenorthfacefactory.weebly.com/][b]North Face Factory Outlet[/b][/url], rings, fragrances and various natural beauty extras includes completed marvelous developments while in the the past svereal years to turn into exceptional, wonderful plus awesome.Its superb being a gals considering there are plenty of design [url=http://thenorthfacefactory.weebly.com/][b]North Face Jackets[/b][/url] for your personal preference, and much much more gals ponder over it an awesome pleasurable so that you can looking for the best several gals North Face Jackets plus coordinate all these design North Face Jackets to receive several design and style plus sense. Prior to now, its possible you have determined the fact that graphic designers with gals [url=http://thenorthfacefactory.weebly.com/][b]Mens North Face Down Coats[/b][/url] plus fashions could not take into accounts this you cannot assume all gals could be the exact decorations.Now, gals recreational North Face Jackets is found in a great different layouts plus shapes that might be you continually desiring to consider up to date fads plus layouts by retailers.


Post a Comment