Saturday, August 1, 2009

Proposal Pembibitan kakao pembibitan kakao

1.1. Latar Belakang
Theobroma cacao.L adalah nama biologis yang diberikan pada pohon kakao oleh Linneus. Theobramo cacau. L, merupakan tanaman perkebunan yang sangat akrab dikalangan masyarakat dunia, begitu juga halnya dengan masyarakat di Indonesia. Tanaman ini merupakan salah satu komoditi penting yang mendapat perhatian dari pemerintah karena telah mendatangkan devisa yang cukup besar untuk negara.
Dibandingkan dengan negara lain di dunia seperti Afrika, Gana dan Brazil yang juga mengusahakan komodoti ini, Indonesia termasuk yang menguasai pasaran, namun dikalangan masyarakat sendiri masih banyak yang mengeluhkan rendahnya produksi kakao. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi diantaranya pemelihararaan yang kurang optimal, mutu bibit yang rendah dan kesalahan dalam penerapan teknologi dan faktor lainnya yang bisa terjadi di lapangan.
Untuk memenuhi permintaan pasar dan meningkatkan produksi tanama kakao, peningkatan mutu kakao rakyat mutlak dilakukan. Produksi yang meningkat akan membantu masyarakat dalam mengembangkan perekonomian keluarga dan pemerintah. Salah satunya dengan melakukan tindakan perbaiikan kualitas pembibitan sehingga menghasilkan bibit kakao yang bermutu baik.
Apabila hal ini tidak dilaksanakan maka akan menimbulkan kerugian yang besar mulai dari masyarakat hingga perusahaan yang menggunakan bibit kakao sebagai bahan bakunya, bahkan negara sekalipun akan merasakan dampaknya.
Terbatasnya bibit bermutu menyebabkan rendahnya produktivitas tanaman kakao saat ini, yakni hanya 625 kilogram (kg) per hektar per tahun. Hal itu setara 32 % dari potensi seharusnya sebesar 2.000 kg per hektar per tahun.
Untuk itu, diperlukan terobosan teknologi pembibitan kakao berkualitas untuk memenuhi kebutuhan yang semakin besar dengan cara menggunakan teknologi tepat guna (Azwar, 2008).
Urine difermentasi merupakan pupuk organik cair yang memiliki hara yang lebih dibandingkan pupuk kandang yang berasal dari feses(pupuk kandang padatan). Disamping kandungan unsur haranya, urine sapi difermentasi juga mengandung hormon atau dikenal dengan zat pengatur tumbuh. Pupuk ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas bibit yang dihasilkan sehingga memiliki nilai jual tinggi.
Penggunaan urine sapi yang difermentasi pada pembibitan tanaman kakao sebagai pupuk merupakan teknologi baru yang diharapkan mampu menggantikan peran pupuk buatan yang selama ini menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Selain itu urine sapi ini telah berhasil diterapkan pada komoditi lain seperti: tomat, jahe merah, padi sawah, karet, dan komoditi lainnya diharapkan juga berhasil pada tanaman kakao yang membutuhkan unsur hara yang terkandung didalam urine sapi (Azwar, 2008).
Dengan pemberian urine sapi fermentasi pada bibit kakao akan dapat menghasilkan bibit yang memiliki mutu dan kualitas baik seperti: warna daun yang lebih segar, batang yang kuat, dan tahan terhadap hama dan penyakit. Hal ini disebabkan karena penyerapan unsur hara oleh tanaman lebih optimal. Bibit yang bermutu baik akan memiliki nilai jual yang tinggi dan tentunya akan mendatangkan keuntungan bagi yang mengusahakannya.
1.2. Tujuan Bisnis Plan
Tujuan dari Bisnis plan dalam pembibitan kakao dengan menggunakan pupuk urine sapi difermentasi adalah sebagai berikut:
1. Melatih dan memupuk jiwa wirausaha pada diri mahasiswa dengan melakukan pembibitan kakao.
2. Melatih mahasiswa dalam manajemen diri dan manajemen usaha yang
dilaksanakan pada pembibitan tanaman kakao.
3. Menggunakan urine sapi difermentasi sebagai pupuk organik pada
pembibitan tanaman kakao untuk meningkatkan kualitas pembibitan.
3.1. Manfaat Ekonomi
Pembibitan kakao merupakan sebuah usaha yang layak untuk diusahakan. Dalam memulai usaha ini tidak memerlukan modal yang besar, tempat yang luas dan penggunaan alat-alat canggih. Dengan berbagai teknolagi pembibitan yang ada, teknoilogi pembitan memakai urine sapi yang difermentasi merupakan usaha yang berazaskan pemamfaatan limbah pertanian sebagai teknologi yang ekonomis dan menguntungkan.
Penggunaan urine sapi difermentasi pada proses pembibitan kakao juga dapat mengurangi biaya produksi. Urine sapi merupakan limbah yang belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat padahal limbah ini memiliki kandungan zat hara yang dibutuhkan tanaman. Pemakaian urine sapi yang difermentasi pada pembibitan tanaman kakao diharapkan dapat meningkatkan mutu bibit kakao yang memiliki nilai jual yang tinggi.
Pembibitan kakao yang menghasilkan bibit bermutu baik untuk dijual kepada masyarakat atau perusahaan yang menggunakan bibit kakao merupakan usaha yang akan mendatangkan keuntungan dan menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi pihak yang mengusahakan. Selain itu bagi petani yang menjual urine sapi juga mendapatkan pendapatan baru dari limbah yang dihasilakan ternak hewan peliharaanya.
1.4. Manfaat Sosial
Dengan pelaksanaan ini dapat membantu progam pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja, sehingga hal ini dapat mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Dampak akhir yang diharapkan adalah memperbaiki perekonomian masyarakat menjadi lebih baik.
Apabila ditinjau dari segi komoditi, kakao itu sendiri maka manfaat yang didapati masyarakat yaitu pemenuhan gizi dan kandungan lemak yang sehat dari hasil olahan kakao. Banyak penelitian yang menyatakan kakao memiliki kandungan zat seperti serat dan vitamin yang dibutuhkan tubuh.
Manfaat sosial jika dilihat dari penggunaan urine sapi yang dipakai dalam pembibitan kakao adalah mendorong pertanian hijau yang ramah lingkungan dan azas pemanfaatan limbah pertanian. Selain itu penggunaan urine sapi juga menambah nilai guna dari urine sapi tersebut menjadi limbah yang memiliki nilai ekonomis dan nilai jual.

Sahabat kalau membutuhkan file secara lengkap silahkan download disini, jangan lupa tinggalkan komentarnya untuk kemajuan blog kita ini.
http://www.indowebster.com/Proposal_BISnis_Plan_pembibitan_kakao.html

1 comments:

Anonymous said...

terimakasih ,,, semoga ap yang diberi mendapat balasan yang setimpal


Post a Comment