Saturday, August 1, 2009

Aplikasi Kompos Jerami untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Kacang Buncis

1.1. Latar Belakang
Tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran polong yang memiliki banyak manfaat. Sebagai bahan sayuran, polong buncis dapat dikonsumsi dalam keadaan muda atau dikonsumsi bijinya. Polong buncis yang dipetik pada saat masih muda memiliki rasa agak manis sehingga sangat cocok untuk bahan sayuran.
Buncis memiliki potensi ekonomi yang sangat baik, sebab peluang pasarnya cukup luas yaitu untuk sasaran pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Ekspor buncis dapat berupa polong segar, polong yang dibekukan maupun bijinya (kacang jogo). Buncis mempunyai peranan yang sangat besar terhadap pendapatan petani, peningkatan gizi masyarakat, pendapatan negara melalui ekspor, pengembangan agribisnis, dan perluasan kesempatan kerja (Setianingsih dan Khaerodin, 2003).
Kebutuhan masyarakat akan buncis terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertumbuhan penduduk. Hasil survei pertanian yang dilakukan pada tahun 1990 dengan jumlah penduduk 179.332.000 jiwa, kebutuhan akan buncis mencapai 261.810 ton, sedangkan produksi buncis hanya mencapai 149.863 ton dengan luas areal panen adalah 54.273 hektar (Setianingsih dan Khaerodin, 2003). Sementara itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2006), khusus untuk wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota dengan jumlah penduduk 330.536 jiwa, kebutuhan buncis mencapai 2.221.201 ton, sedangkan produksi buncis 1.312,60 ton. Dari data tersebut terlihat bahwa produksi buncis di dalam negeri belum dapat memenuhi kebutuhan penduduk. Untuk memenuhi permintaan penduduk perlu dilakukan usaha peningkatan produksi buncis baik dari kualitas maupun kuantitas yakni dengan cara perbaikan teknik budidaya, pemilihan teknologi yang tepat, penggunaan benih yang baik, pemeliharaan serta perlindungan hama dan penyakit. Menurut Rukmana (2002), tanaman buncis yang baik akan menghasilkan polong muda bekisar antara 16 – 25 ton/hektar sementara menurut Cahyono (2007), hasil panen polong buncis muda dapat mencapai 30 ton/hektar.
Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi buncis adalah dengan menggunakan teknologi yang tepat. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan adalah kompos jerami, dimana diharapkan dapat berpengaruh positif terhadap produksi buncis.
Jerami padi merupakan bagian vegetatif dari tanaman padi (batang, daun, tangkai malai). Pada waktu tanaman padi dipanen, jerami adalah bagian yang tidak dipungut atau diambil. Perbandingan antara bobot gabah yang dipanen dengan jerami pada saat panen padi umumnya 2 : 3 (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah jerami yang dihasilkan lebih besar daripada gabah. Khusus di wilayah Kabupaten Limapuluh Kota yang pada umumnya masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian khususnya budidaya tanaman padi, pada saat panen padi menghasilkan jerami padi dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini merupakan limbah yang sangat besar dan diperlukan suatu usaha untuk mengelola limbah tersebut agar dapat berguna. Oleh karena itu, penggunaan jerami padi sebagai bahan baku kompos dapat mengurangi jumlah jerami yang tidak terpakai agar lebih bermanfaat bagi tanaman.
Kompos merupakan hasil penguraian dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat oleh populasi berbagai macam mikroorganisme dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Wikipedia.org). Kompos yang dibuat dari bahan jerami sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman. Menurut Mahyuddin, kandungan unsur hara dalam kompos adalah terdiri dari N (0,5-2,0) %, P2O5 (0,44 - 0,88) %, dan K2O (0,4 - 1,5) %. Hal ini menunjukkan bahwa kompos dapat mengefisiensikan penggunaan pupuk kimiawi. Karena pada tanaman kacang-kacangan, kebutuhan akan unsur N dalam jumlah yang cukup akan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman seperti tinggi tanaman, besar batang, pembentukan cabang dan daun, pertumbuhan pucuk dan dan mengganti sel-sel yang telah rusak. Selain itu, zat nitrogen juga bermanfaat bagi pembentukan klorofil yang penting untuk proses fotosintesis sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.
Kompos juga berperan dalam meningkatkan produktivitas tanah karena dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Sarief, 1983). Peranan kompos dalam memperbaiki sifat fisik tanah terutama dalam pembentukan struktur tanah sehingga terbentuk agregat–agregat tanah dengan stabilitas yang mantap, ruang pori, aerasi dan draenase yang baik sehingga akan menjaga tata air dan udara tanah yang seimbang. Hal ini akan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman karena akar dapat dengan mudah menembus lapisan tanah sehingga mampu memperoleh unsur hara lebih baik.
Kompos dapat memperbaiki sifat kimia tanah melalui perombakan bahan organik segar oleh mikroorganisme tanah sehingga senyawa atau zat organik dalam jaringan tanaman atau hewan diubah menjadi zat anorganik yang akan memperkaya ketersediaan hara dalam tanah. Di dalam memperbaiki sifat biologi tanah, kompos dapat menambah populasi mikroorganisme tanah sehingga kegiatan mikroorganisme dalam tanah akan meningkat karena bahan organik yang terdapat didalam kompos digunakan sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya.
Proses pembuatan kompos jerami padi dilakukan dengan bantuan mikroorganisme, yaitu jamur Trichoderma harzianum. Trichoderma harzianum merupakan mikroorganisme yang memiliki enzim selulosa yang sangat efektif dalam menguraikan bahan organik yang beselulosa tinggi seperti jerami padi. Selain sebagai dekomposer Trichoderma harzianum juga berperan sebagai pengendali hayati terhadap beberapa jenis jamur penyebab penyakit antara lain: Rhizoctonia solani, Fusarium sp., Lentinus lepidus, Phytium sp., Botrytis cinerea, Gloeosporium gloeosporoides, Rigidoporus lignosus dan Sclerotium rolfsii yang menyerang tanaman jagung, kedele, kentang, tomat dan kacang buncis, kubis, cucumber, kapas, kacang tanah, pohon buah-buahan, semak dan tanaman hias (Wahyudi, 2002).
Penambahan kompos jerami padi berpengaruh langsung terhadap tanaman buncis dengan menyuplai nutrien bagi tanaman. Penambahan bahan organik kedalam tanah akan menambahkan unsur hara baik makro maupun mikro yang dibutuhkan oleh tanaman, sehingga pemupukan dengan pupuk anorganik yang biasa dilakukan oleh para petani dapat dikurangi kuantitasnya karena tanaman sudah mendapatkan unsur-unsur hara dari bahan organik yang ditambahkan kedalam tanah tersebut. Efisiensi nutrisi tanaman meningkat apabila permukaan tanah dilindungi dengan bahan organik.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan proyek usaha mandiri (PUM) yang berjudul “Aplikasi Kompos Jerami untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Kacang Buncis (Phaseolus vulgaris L.)” adalah sebagai berikut :
1. Dapat merencanakan suatu kegiatan Proyek Usaha Mandiri tanaman buncis mulai dari perencanaan usaha sampai pelaksanaan.
2. Dapat mengembangkan usaha tani dengan penerapan teknologi kompos jerami.
3. Dapat mengatasi permasalahan–permasalahan yang muncul selama kegiatan berlangsung dan dapat mengevaluasi hasil dari proyek yang dilaksanakan.
4. Melatih diri untuk dapat mengelola sebuah usaha, khususnya di bidang pertanian.

Sahabat kalau membutuhkan file secara lengkap silahkan download disini, jangan lupa tinggalkan komentarnya untuk kemajuan blog kita ini.

http://www.indowebster.com/Aplikasi_Kompos_Jerami_untuk_Meningkatkan_Produksi_Tanaman_Kacang_Buncis_Phaseolus_vulgaris_Lrar.html

1 comments:

ari said...

nie dh asyik dn sngat mmbntu..


Post a Comment