Thursday, August 20, 2009

Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani jagung

Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani jagung (Studi kasus petani jagung di Kel. Panreng Kec. Baranti Kab.Sidrap) dibimbing Oleh Zulkifli dan Amal Said.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi yang diterapkan petani dalam usahatani jagung, 2) keuntungan yang diperoleh petani dalam usahatani jagung.

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti kabupaten Sidrap. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu mulai bulan maret sampai bulan mei 2007.

Data diperoleh dari 30 orang petani jagung yang dipilih dengan metode acak secara sederhana (random sampling). Data diolah dan dianalisis dengan Fungsi produksi Cobb-Douglass, R/C Ratio, Biaya Per Unit.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa skala ekonomi penggunaan faktor produksi yaitu lahan, benih dan pupuk phonska pada usahatani jagung berada dalam keadaan increasing return to scale dengan jumlah koefisien elastisitasnya 1,002.

Usahatani jagung yang diusahakan petani responden menguntungkan, dengan nilai R/C Ratio 2,53 (R/C > 1) dan keuntungan per kilogram jagung rata-rata Rp. 967,87

I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pembangunan pertanian sebagai bagian integral dari pembangunan nasional mempunyai peranan strategis dalam pemulihan ekonomi nasional. Peranan strategis tersebut khususnya adalah dalam penyediaan pangan, penyediaan bahan baku industri, peningkatan eksport dan devisa Negara, penyediaan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat.
Prioritas pembangunan pertanian dewasa ini adalah melestarikan swasembada pangan, peningkatan ekspor non migas dan mengurangi pengeluaran devisa yang sekaligus memperluas lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Olehnya itu pengembangan wilayah pedesaan merupakan salah satu tujuan utama pembangunan pertanian maka sangat diharapkan perkembangan agribisnis daerah yang berdaya saing sesuai dengan keunggulan komparatif masing-masing daerah, berkelanjutan, berkeadilan dan demokrasi.
Salah satu komoditi tanaman pangan yang dapat mengambil peran dalam pembangunan sektor pertanian adalah komoditi jagung. Di Indonesia Jagung merupakan komoditas pangan kedua setelah padi dan sumber kalori atau makanan pengganti beras disamping itu juga sebagai pakan ternak. Kebutuhan jagung akan terus meningkat dari tahun ketahun sejalan dengan peningkatan taraf hidup ekonomi masyarakat dan kemajuan industri pakan ternak sehingga perlu upaya peningkatan produksi melalui sumber daya manusia dan sumber daya alam, ketersediaan lahan maupun potensi hasil dan teknologi.
Jagung menjadi salah satu komoditas pertanian yang sangat penting dan saling terkait dengan industri besar. Selain untuk dikonsumsi untuk sayuran, buah jagung juga bisa diolah menjadi aneka makanan. Selain itu, pipilan keringnya dimanfaatkan untuk pakan ternak. Kondisi ini membuat budidaya jagung memiliki prospek yang sangat menjanjikan, baik dari segi permintaan maupun harga jualnya. Terlebih lagi setelah ditemukan benih jagung hibrida yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan benih jagung biasa. Keunggulan tersebut antara lain, masa panennya lebih cepat, lebih tahan serangan hama dan penyakit, serta produktivitasnya lebih banyak.
Secara nasional perkembangan produksi jagung dalam kurun waktu 1999-2005 cenderung mengalami peningkatan, kecuali pada tahun 2001 mengalami penurunan namun pada tahun berikutnya kembali meningkat. Sebagai gambaran capaian produksi, luas panen serta produktivitas secara nasional dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

Tabel 1. Perkembangan Luas Panen, Produksi serta Produktivitas Jagung Tahun 1999-2005 di Indonesia
No Tahun Luas Panen (Ha) Produksi
(Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
1. 1999 3.456.357 9.204.036 2,66
2. 2000 3.500.318 9.676.899 2,76
3. 2001 3.285.866 9.347.192 2,84
4. 2002 3.109.448 9.585.277 3,08
5. 2003 3.358.511 10.886.442 3,24
6. 2004 3.356.914 11.225.243 3,34
7. 2005 3.625.987 12.523.894 3,45
Sumber : Departemen Pertanian Jakarta, 2007.
Sementara itu perkembangan komoditi jagung di Sulawesi Selatan pada tahun 2006 telah mencapai 696.084 ton dengan luas panen 206.387 Ha dan produktivitas 3,37 ton/Ha yang tersebar di beberapa Kabupaten. Dan diperkirakan pada tahun 2007 produksi jagung akan mencapai sekitar 750.000 ton (Anonim, 2007).
Sidenreng Rappang merupakan salah satu Kabupaten sentra pengembangan komoditi padi dalam konsep perwilayahan komoditas yang lebih dikenal dengan nama Bosowasipilu (Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu) seharusnya mengambil peran dalam pemenuhan jagung baik pada tingkat lokal, regional, maupun nasional. Disamping itu daerah inipun sangat berpotensi untuk mengembangkan komoditi jagung karena memiliki permintaan pasar lokal yang cukup tinggi terutama pemenuhan pakan ternak ayam ras di daerah ini. Sebagai gambaran capaian produksi jagung dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

Tabel 2. Data Produksi Jagung di Kabupaten Sidrap Tahun 2000-2005.
No Tahun Produksi (ton)
1 2000 1.757,0
2 2001 3.009,1
3 2002 1.667,8
4 2003 6.309,3
5 2004 4.167,7
6 2005 12.792,9
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2007.
Untuk itu pemerintah Kabupaten Sidrap telah mengembangkan komoditi jagung di Kecamatan Baranti khususnya Kelurahan Panreng berbasis agribisnis yaitu penyediaan sarana produksi seperti benih, pupuk dan perbaikan sistem budidaya serta peningkatan kelembagaan kelompok tani.
Adapun jenis benih yang digunakan oleh petani di Kelurahan Panreng adalah jenis Hibrida Bisi-2, dimana benih tersebut dapat diperoleh dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan setempat atau toko-toko tani. Selain itu petani menggunakan pupuk Phonska yang dapat diperoleh di pasar tradisional atau toko-toko tani.
Akan tetapi tersedianya sarana atau faktor produksi belum berarti produktivitas yang diperoleh petani akan tinggi, namun bagaimana petani melakukan usahanya secara efisien. Karena pentingnya komoditi jagung, maka akan dilakukan penelitian mengenai analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi dan keuntungan yang diperoleh dari penggunaan faktor-faktor produksi tersebut.
I.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi secara bersama-sama sudah mencapai komposisi optimal terhadap total produk usahatani jagung ?
2. Berapa keuntungan yang diperoleh petani dalam usahatani jagung ?

I.3. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi yang diterapkan petani dalam usahatani jagung
2. Keuntungan yang diperoleh petani dalam usahatani jagung
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Memberikan informasi dalam pengelolaan usahatani jagung untuk memanfaatkan faktor-faktor produksi yang dapat memberikan hasil yang optimal
2. Sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Konsep Efisiensi
Ilmu usahatani biasanya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki sebaik-baiknya. Dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran atau output yang melebihi masukan atau input (Soekartawi, 2006).
Pengertian efisiensi sangat relatif, efisiensi diartikan sebagai penggunaan input sekecil-kecilnya untuk mendapatkan produksi yang sebesar-besarnya. Situasi ang demikian akan terjadi kalau petani mampu membuat suatu upaya kalau nilai produk marginal (NPM) untuk suatu input sama dengan harga input atau dapat dituliskan:
NPMXi = Pxi atau
NPMXi = 1
Pxi
Dalam banyak kenyataan NPMXi tidak selalu sama dengan Pxi. Yang sering terjadi adalah sebagai berikut :
a. (NPMXi/PXi) > 1 artinya penggunaan input X belum efisien, untuk mencapai efisien input X perlu ditambah.
b. (NPMXi/PXi) < 1 artinya penggunaan input X belum efisien, untuk mencapai efisien input X perlu dikurangi (Soekartawi, 2003).
Soekartawi (2001) mengemukakan bahwa Prinsip optimalisasi penggunaan faktor produksi pada prinsipnya adalah bagaimana menggunakan faktor produksi tersebut seefisien mungkin. Dalam terminologi ilmu ekonomi, maka pengertian efisien ini dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu : 1) efisiensi teknis. 2) efisiensi alokatif (efisiensi harga).
3) efisiensi ekonomi.
Kondisi efisiensi harga yang sering dipakai sebagai patokan yaitu bagaimana mengatur penggunaan faktor produksi sedemikian rupa, sehingga nilai produk marginal suatu input sama dengan harga faktor produksi atau input tersebut (Soekartawi, 2001).
Suatu penggunaan faktor produksi dikatakan efisien secara teknis (efisiensi teknis) kalau faktor produksi yang dipakai menghasilkan produksi maksimum. Dikatakan efisiensi harga atau efisiensi alokatif kalau nilai dari produk marginal sama dengan harga faktor produksi yang bersangkutan dan dikatakan efisiensi ekonomi kalau usaha pertanian tersebut mencapai efisiensi teknis dan sekaligus juga mencapai efisiensi harga (Soekartawi, 2001).
II.2. Faktor-Faktor Produksi Usahatani Jagung
Usahatani adalah suatu kegiatan mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan, tenaga kerja, dan modal sehingga memberikan manfaat sebaik-baiknya. Usahatani merupakan cara-cara petani menentukan, mengorganisasikan, dan mengkoordinasikan, penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin (Suratiyah, 2006).
Soekartawi (2001), mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan korbanan produksi. Faktor produksi memang sangat menentukan besar-kecilnya produksi yang diperoleh. Faktor produksi lahan, modal untuk membeli bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja dan aspek manajemen adalah faktor produksi yang terpenting. Hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output) biasanya disebut dengan fungsi produksi atau faktor relationship.
1. Lahan Pertanaman
Tanah sebagai salah satu faktor produksi merupakan pabrik hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan darimana hasil produksi ke luar. Faktor produksi tanah mempunyai kedudukan paling penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya ( Mubyarto, 1995).
Rukmana (1997), Pengolahan tanah secara sempurna sangat diperlukan agar dapat memperbaiki tekstur dan struktur tanah, memberantas gulma dan hama dalam tanah, memperbaiki aerasi dan drainase tanah, mendorong aktivitas mikroorganisme tanah serta membuang gas-gas beracun dari dalam tanah.
Penyiapan lahan untuk tanaman jagung dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu tanpa olah tanah (TOT) atau disebut zero tillage, pengolahan tanah minimum (minimum tillage) dan pengolahan tanah maksimum (maximum tillage) (Rukmana, 1997).
Zulkifli (2005), mengemukakan bahwa jagung hibrida tidak membutuhkan persyaratan tanah yang terlalu kompleks karena tanaman ini dapat tumbuh disemua macam tanah asalkan tanah tersebut subur, gembur, dan kaya akan bahan organik. Di tanah berat dengan kandungan liat tinggi, jagung masih bisa ditanam dengan pertumbuhan yang normal asalkan tata air (drainase) dan tata udara tanahnya baik. Pada kondisi seperti ini tanah harus sering diolah dalam masa pertumbuhan dan saluran air dibuat diantara barisan selalu diperbaiki. Air yang berlebihan dengan membentuk genangan air akan mengakibatkan benih busuk, tanaman kekurangan udara sehingga pertumbuhannya tidak normal.
2. Modal (sarana produksi)
Dalam kegiatan proses produksi pertanian, maka modal dibedakan menjadi dua macam yaitu modal tetap dan tidak tetap. Perbedaan tersebut disebabkan karena ciri yang dimiliki oleh model tersebut. Faktor produksi seperti tanah, bangunan, dan mesin-mesin sering dimasukkan dalam kategori modal tetap. Dengan demikian modal tetap didefinisikan sebagai biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang tidak habis dalam sekali proses produksi tersebut. Peristiwa ini terjadi dalam waktu yang relative pendek dan tidak berlaku untuk jangka panjang (Soekartawi, 2003).
Sebaliknya dengan modal tidak tetap atau modal variabel adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dan habis dalam satu kali dalam proses produksi tersebut, misalnya biaya produksi yang dikeluarkan untuk membeli benih, pupuk, obat-obatan, atau yang dibayarkan untuk pembayaran tenaga kerja.
Besar kecilnya modal dalam usaha pertanian tergantung dari :
1.) Skala usaha, besar kecilnya skala usaha sangat menentukan besar-kecilnya modal yang dipakai makin besar skala usaha makin besar pula modal yang dipakai.
2.) Macam komoditas, komoditas tertentu dalam proses produksi pertanian juga menentukan besar-kecilnya modal yang dipakai.
3.) Tersedianya kredit sangat menentukan keberhasilan suatu usahatani (Soekartawi,2003).
Rukmana (1997), mengemukakan bahwa benih yang bermutu tinggi yang berasal dari varietas unggul merupakan salah satu faktor penentu untuk memperoleh kepastian hasil usahatani jagung. Berbagai benih varietas unggul jagung dapat dengan mudah diperoleh ditoko-toko sarana produksi pertanian. Benih jagung tersebut sudah dikemas dalam kantong plastik dan berlabel sertifikat sehingga petani tinggal menggunakannya. Namun kadang benih jagung diproduksi sendiri oleh petani.
Biji jagung yang akan dijadikan benih diproses melalui tahap-tahap pengeringan, pemipilan, pengeringan ulang dan pengemasan sesuai dengan kaidah tata laksana pembenihan. Syarat benih jagung yang baik adalah: 1) daya tumbuh minimum 80%. 2) tidak keropos dan berlubang. 3) bebas dari hama dan penyakit 4) murni atau bebas dari campuran varietas lain. 5) berwarna seragam sesuai dengan warna asli suatu varietas. 6) ukuran biji seragam (Rukmana, 1997).
Menurut Marsono dan Sigit (2005), Pupuk sangat bermanfaat dalam menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia ditanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Manfaat utama dari pupuk yang berkaitan dengan sifat fisika tanah yaitu memperbaiki struktur tanah dari padat menjadi gembur. Pemberian pupuk organik, terutama dapat memperbaiki struktur tanah dengan menyediakan ruang pada tanah untuk udara dan air. Selain menyediakan unsur hara, pemupukan juga membantu mencegah kehilangan unsur hara yang cepat hilang seperti N, P, K yang mudah hilang oleh penguapan. Manfaat lain dari pupuk yaitu memperbaiki kemasaman tanah. Tanah yang masam dapat ditingkatkan pHnya menjadi pH optimum dengan pemberian kapur dan pupuk organik.
Pupuk phonska merupakan pupuk majemuk yang mengandung nitrogen, phosfor dan kalium. Menurut Pinus (1994), pupuk phonska digunakan untuk pertumbuhan akar tanaman muda, membantu asimilasi dan pernapasan serta mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah. Dosis pupuk phonska pada tanaman jagung yaitu 50-100 kilogram per hektar.
3. Tenaga Kerja
Faktor produksi tenaga kerja, merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja dilihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu pula diperhatikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja adalah :
1.) Tersedianya tenaga kerja
Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimal. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan ini memang masih banyak dipengaruhi dan dikaitkan dengan kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, musim dan upah tenaga kerja.
2.) Kualitas tenaga kerja
Dalam proses produksi, apakah itu proses produksi barang-barang pertanian atau bukan, selalu diperlukan spesialisasi. Persediaan tenaga kerja spesialisasi ini diperlukan sejumlah tenaga kerja yang mempunyai spesialisasi pekerjaan tertentu, dan ini tersedianya adalah dalam jumlah yang terbatas. Bila masalah kualitas tenaga kerja ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi kemacetan dalam proses produksi. Sering dijumpai alat-alat teknologi canggih tidak dioperasikan karena belum tersedianya tenaga kerja yang mempunyai klasifikasi untuk mengoperasikan alat tersebut.
3.) Jenis kelamin
Kualitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, apalagi dalam proses produksi pertanian. Tenaga kerja pria mempunyai spesialisasi dalam bidang pekerjaan tertentu seperti mengolah tanah, dan tenaga kerja wanita mengerjakan tanam.
4.) Tenaga kerja musiman
pertanian ditentukan oleh musim, maka terjadilah penyediaan tenaga kerja musiman dan pengangguran tenaga kerja musiman. Bila terjadi pengangguran semacam ini, maka konsekuensinya juga terjadi migrasi atau urbanisasi musiman (Soekartawi, 2003).
Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri. Tenaga kerja keluarga ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak perlu dinilai dengan uang tetapi terkadang juga membutuhkan tenaga kerja tambahan misalnya dalam penggarapan tanah baik dalam bentuk pekerjaan ternak maupun tenaga kerja langsung sehingga besar kecilnya upah tenaga kerja ditentukan oleh jenis kelamin. Upah tenaga kerja pria umumnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan upah tenaga kerja wanita. Upah tenaga kerja ternak umumnya lebih tinggi daripada upah tenaga kerja manusia ( Mubyarto, 1995).
Soekartawi (2003), Umur tenaga kerja di pedesaan juga sering menjadi penentu besar kecilnya upah. Mereka yang tergolong dibawah usia dewasa akan menerima upah yang juga lebih rendah bila dibandingkan dengan tenaga kerja yang dewasa. Oleh karena itu penilaian terhadap upah perlu distandarisasi menjadi hari kerja orang (HKO) atau hari kerja setara pria (HKSP). Lama waktu bekerja juga menentukan besar kecilnya tenaga kerja makin lama jam kerja, makin tinggi upah yang mereka terima dan begitu pula sebaliknya.
Tenaga kerja bukan manusia seperti mesin dan ternak juga menentukan basar kecilnya upah tenaga kerja. Nilai tenaga kerja traktor mini akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja orang, karena kemampuan traktor tersebut dalam mengolah tanah yang relatif lebih tinggi. Begitu pula halnya tenaga kerja ternak, nilainya lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja traktor karena kemampuan yang lebih tinggi daripada tenaga kerja tersebut (Soekartawi, 2003).
4. Manajemen
Manajemen terdiri dari merencanakan, mengorganisasikan dan melaksanakan serta mengevalusi suatu proses produksi. Karena proses produksi ini melibatkan sejumlah orang (tenaga kerja) dari berbagai tingkatan, maka manajemen berarti pula bagaimana mengelola orang-orang tersebut dalam tingkatan atau dalam tahapan proses produksi (Soekartawi, 2003).
Faktor manajemen dipengaruhi oleh: 1) tingkat pendidikan
2) Pengalaman berusahatani 3) skala usaha. 4) besar kecilnya kredit dan 5) macam komoditas.
Menurut Entang dalam Tahir Marzuki (2005), perencanaan usahatani akan menolong keluarga tani di pedesaan. Diantaranya pertama, mendidik para petani agar mampu berpikir dalam menciptakan suatu gagasan yang dapat menguntungkan usahataninya. Kedua, mendidik para petani agar mampu mangambil sikap atau suatu keputusan yang tegas dan tepat serta harus didasarkan pada pertimbangan yang ada. Ketiga, membantu petani dalam memperincikan secara jelas kebutuhan sarana produksi yang diperlukan seperti bibit unggul, pupuk dan obat-obatan. Keempat, membantu petani dalam mendapatkan kredit utang yang akan dipinjamnya sekaligus juga dengan cara-cara pengembaliannya. Kelima, membantu dalam meramalkan jumlah produksi dan pendapatan yang diharapkan.
Soekartawi (2005) Perencanaan input-input dan sarana produksi mencakup kegiatan mengidentifikasi input-input dan sarana produksi yang dibutuhkan, baik dari segi jenis, jumlah dan mutu atau spesifikasinya. Setelah itu maka disusun rencana dan sistem pengadaannya dua hal mendasar yang perlu menjadi titik perhatian dalam memilih sistem pengadaan adalah membuat sendiri atau membeli.
Pengorganisasian mengenai sumberdaya berupa input-input dan sarana produksi yang akan digunakan akan sangat berguna bagi pencapaian efisiensi usaha dan waktu. Pengorganisasian tersebut terutama menyangkut bagaimana mengalokasikan berbagai input dan fasilitas yang akan digunakan dalam proses produksi sehingga proses produksi dapat berjalan secara efektif dan efisien. Pencapaian efektivitas dalam pengorganisasian menekankan pada penempatan fasilitas dan input-input secara tepat dalam suatu rangkaian proses, baik dari segi jumlah maupun mutu dan kapasitas. Dilain pihak, pencapaian efisiensi dalam pengorganisasian input-input dan fasilitas produksi lebih mengarah kepada optimasi penggunaan berbagai sumberdaya tersebut sehingga dapat dihasilkan output maksimum dengan biaya minimum. Dalam usahatani pengorganisasian input-input dan fasilitas produksi menjadi penentu dalam pencapaian optimalitas alokasi sumber-sumber produksi (Soekartawi, 2005).
Pengawasan dalam usaha produksi pertanian meliputi pengawasan anggaran, proses, masukan, jadwal kerja yang merupakan upaya untuk memperoleh hasil maksimal dari usaha produksi. Sedangkan evaluasi dilakukan secara berkala mulai saat perencanaan sampai akhir usaha tersebut berlangsung, sehingga jika terjadi penyimpangan dari rencana yang dianggap dapat merugikan maka segera dilakukan pengendalian (Soekartawi, 2005).
Pengawasan pada suatu usahatani meliputi pengawasan terhadap penggunaan faktor produksi lahan, bibit, pupuk, obat-obatan dan persediaan modal untuk membiayai usaha pertanian. Dengan pengawasan yang baik terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dapat menentukan efisien tidaknya suatu usahatani. Seringkali dijumpai makin luas lahan yang dipakai sebagai usaha pertanian akan semakin tidak efisien lahan tersebut. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa luasnya lahan mengakibatkan upaya untuk melakukan tindakan yang mengarah pada segi efisiensi akan berkurang disebabkan lemahnya pengawasan terhadap penggunaan faktor produksi bibit, pupuk, obat-obatan dan terbatasnya persediaan modal untuk pembiayaan usaha pertanian dalam skala tersebut. Sebaliknya pada luas lahan yang sempit, upaya pengawasan terhadap faktor produksi semakin baik, sebab diperlukan modal yang tidak terlalu besar sehingga usaha pertanian seperti ini lebih efisien. Meskipun demikian, luasan yang terlalu kecil cenderung menghasilkan usaha yang tidak efisien pula (Soekartawi, 1999).
Selanjutnya dikemukakan bahwa Pengendalian dalam usaha produksi pertanian berfungsi untuk menjamin agar proses produksi berjalan pada rel yang telah direncanakan. Dalam usahatani misalnya pengendalian dapat dilakukan pada masalah kelebihan penggunaan tenaga manusia, penggunaan air, kelebihan biaya pada suatu tahap proses produksi dan lain-lain.
Faktor produksi tersebut berpengaruh pada biaya produksi sedangkan keduanya akan mempengaruhi penerimaan usahatani. Penerimaan usahatani akan terkait dengan jumlah produk yang dihasilkan dengan harga komoditas. Salah satu yang menentukan komoditas adalah jumlah permintaan dan penawaran harga produk dan faktor produksi yang sering mengalami perubahan akan berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang diterima. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani adalah luas usaha, tingkat produksi, pilihan kombinasi usaha dan juga intensitas pengusahaan tanaman (Hernanto, 1991).
Pengaruh penggunaan faktor produksi dapat dinyatakan dalam tiga alternatif sebagai berikut :
1.) Decreasing return to scale artinya bahwa proporsi dari penambahan faktor produksi melebihi proporsi pertambahan produksi
2.) Constant return to scale artinya bahwa penambahan faktor produksi akan proporsional dengan penambahan produksi yang diperoleh
3.) Increasing return to scale artinya bahwa proporsi dari penambahan faktor produksi akan menghasilkan pertambahan produksi yang lebih besar (Soekartawi,2000).
Keuntungan usahatani dapat dianalisis dengan menggunakan analisis R/C ratio untuk mengetahui apakah usahatani tersebut menguntungkan atau tidak dan analisis fungsi keuntungan untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh, analisis biaya per unit untuk mengetahui keuntungan setiap unitnya (kg) (Kartasapoetra, 2001).
Menurut Soekartawi (1999), bahwa dalam melakukan usaha pertanian seorang pengusaha atau petani dapat memaksimumkan keuntungan dengan “Profit Maximization dan Cost Minimization”. Profit maximization adalah mengalokasikan input seefisien mungkin untuk memperoleh output yang maksimal, sedangkan cost minimization adalah menekankan biaya produksi sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Kedua pendekatan tersebut merupakan hubungan antara input dan output produksi yang tidak lain adalah fungsi produksi. Dimana pertambahan output yang diinginkan dapat ditempuh dengan menambah jumlah salah satu dari input yang digunakan.
Begitu pula halnya dengan input yang digunakan dalam usahatani jagung penambahan input produksi jagung akan memberikan tambahan output usahatani jagung. Akan tetapi penambahan input tersebut tidak selamanya memberikan tambahan produk. Ada saat dimana penambahan input produksi jagung akan menurunkan produksi jagung yang dihasilkan. Untuk itu alokasi sumberdaya yang tepat sangat penting dalam mencapai keberhasilan usahatani jagung.

II.3. Jagung (Zea mays L)
Dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan, kedudukan tanaman jagung diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L
Tanaman jagung termasuk jenis tumbuhan semusim. Susunan tubuh tanaman jagung terdiri atas akar, batang, daun, bunga dan buah. Buah jagung terdiri atas tongkol, biji dan daun pembungkus. Biji jagung mempunyai bentuk, warna. Pada umumnya biji jagung tersusun dalam barisan yang melekat secara lurus atau berkelok-kelok dan berjumlah antara 8-20 baris biji. Dimana biji jagung terdiri dari tiga bagian utama yaitu kulit biji, endosperm dan embrio (Rukmana,1997).
Selanjutnya dikemukakan bahwa tanaman jagung berumah satu yaitu bunga jantan terbentuk pada ujung batang dan bunga betina terletak dibagian tengah batang pada salah satu ketiak daun. Tanaman jagung bersifat protandry yaitu bunga jantan matang lebih dahulu 1-2 hari daripada bunga betina. Letak bunga jantan dan bunga betina secara terpisah, sehingga penyerbukan tanaman jagung bersifat menyerbuk silang.
Karakteristik umur tanaman jagung dapat dibedakan menjadi tiga kelompok varietas yaitu : 1) varietas berumur pendek adalah umur panennya berkisar antara 70-80 hari setelah tanam.2) varietas berumur sedang yaitu umur panennya berkisar antara 80-110 hari setelah tanam.3) varietas berumur panjang yaitu umur panennya lebih dari 110 hari setelah tanam. Warna biji jagung amat bervariasi, tergantung pada jenis atau varietasnya. Pada dasarnya warna biji jagung dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu biji kuning, biji putih dan biji sempurna (Rukmana, 1997).
Keunggulan benih jagung hibrida antara lain tahan terhadap jenis penyakit tertentu, masa panennya lebih cepat, dan kualitas serta kuantitasnya produksinya lebih baik. Bahkan, ada jagung hibrida yang bias mengeluarkan tongkol jagung kembar sehingga hasil panennya berlipat ganda. Sayangnya, benih jagung hibrida hanya bisa ditanam satu musim tanam karena turunannya sudah tidak lagi memiliki sifat unggul dari sang induk (Redaksi Agromedia, 2007).
Sejak munculnya benih jagung hibrida, makin banyak varietas-varietas jagung yang diciptakan dengan berbagai macam keunggulan. Keadaan tersebut memudahkan para petani untuk memilih varietas jagung yang akan ditanam. Penanaman tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan lahan tanam yang ada (Redaksi Agromedia, 2007).
Saat ini, selain untuk konsumsi manusia, jagung juga dimanfaatkan sebagai makanan ternak unggas seperti ayam, bebek, burung, dan ternak sapi, domba, serta babi. Bahkan di Negara-negara maju, sari pati jagung diolah menjadi gula rendah kalori dan ampasnya dip roses kembali untuk menghasilkan alcohol dan monosodium glutamate (Redaksi Agromedia, 2007).
II.4. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian maka disusun hipotesis sebagai berikut :
1. Faktor produksi lahan, tenaga kerja, benih dan pupuk phonska yang digunakan secara bersama-sama dalam usahatani jagung belum efisien.
2. Usahatani jagung yang dilaksanakan petani menguntungkan.
III. METODE PENELITIAN
III.1. Waktu Dan Tempat
Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan yaitu bulan Maret sampai bulan Mei 2007. Lokasi penelitian di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidenreng Rappang.
III.2. Penentuan Petani Responden
Responden yang akan diambil adalah petani yang berusahatani jagung. Penentuan petani responden dalam penelitian ini dilakukan secara acak sederhana (random sampling) yaitu dari 119 orang petani jagung, dipilih 30 orang petani yang dianggap dapat mewakili petani yang mengusahakan jagung.
III.3. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Jenis data penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari petani melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan, sedangkan data sekunder diperoleh dari lembaga atau instansi yang terkait dengan penelitian ini yaitu kantor kelurahan Panreng, BPS kab.Sidrap.
III.4. Analisis Data
Data primer dikumpulkan melalui kuisioner yang telah dibuat terlebih dahulu dan memuat seluruh pertanyaan yang dibutuhkan berdasarkan data yang diinginkan. Data yang dikumpulkan di klasifikasi, ditabulasi, dan diolah sesuai dengan alat analisis yang dipakai yaitu
1. Analisis fungsi produksi Cobb Douglass
Analisis fungsi cobb Douglas digunakan untuk mengetahui pengaruh penggunaan faktor produksi. Analisis fungsi cobb Douglass:
Y = ax1b1 x2b2 ... xibi... xnbn eu
untuk memudahkan pendugaan dinyatakan dengan mengubah bentuk linier berganda setelah melogaritmakan persamaan-persamaan tersebut
Log Y = log a + b1 log x1 + b2 log x2 + … + b4 log x4. + u
Dimana setelah dilogaritmakan hasilnya sebagai berikut :
Y = ax1b1 x2b2 x3b3 x4b4 eu
Keterangan :
Y = Produk jagung
X1 = Luas pertanaman jagung (are)
X2 = Tenaga kerja (HKSP)
X3 = Penggunaan benih (kg)
X4 = Penggunaan pupuk phonska (kg)
u = kesalahan
e = Logaritma natural ( e = 2.718 )
a.b = Besaran yang akan diduga

Setelah diperoleh koefisien regresi, maka dilakukan uji F untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (xi) secara bersama-sama terhadap variabel tidak bebas (Y). uji T untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel tidak bebas. Elastisitas penggunaan faktor produksi diketahui dari besarnya nilai bi. Pengaruh penggunaan faktor produksi diketahui dengan menggunakan koefisien elastisitas masing-masing variabel bebas terhadap variabel tidak bebas yaitu ?bi, dengan kriteria penilaian :
1.) Jika ?bi > 1, skala ekonomi usahatani jagung increasing return to scale
2.) Jika ?bi =1, skala ekonomi usahatani jagung constant return to scale
3.) Jika ?bi <1, skala ekonomi usahatani jagung decreasing return to scale
Efisiensi penggunaan faktor produksi dapat dihitung dengan menggunakan efisiensi harga yaitu nilai produk marginal input (NPMXi) sama dengan harga input (PXi). Rumus perhitungan efisiensi harga berdasarkan penggunaan teknik fungsi produksi Cobb-Douglass adalah :
bi . Y . Py = PXi
Xi

NPMXi = PXi

Dimana :
bi = elastisitas produksi
Y = output rata-rata
X = input rata-rata
Py = harga output rata-rata
PXi = harga input rata-rata

Dengan kriteria penilaian :

Jika NPMXi/PXi = 1 penggunaan faktor produksi efisien
NPMXi/PXi > 1 penggunaan faktor produksi belum efisien
NPMXi/PXi < 1 penggunaan faktor produksi tidak efisien

2. Analisis R/C Ratio dan Fungsi Keuntungan
Analisis R/C Ratio digunakan untuk mengetahui apakah petani dalam mengusahakan pertanaman jagung menguntungkan atau merugikan
R/C Ratio = TR/TC
Dimana : TR : Total Revenue (Rp)
TC : Total Cost (Rp)

Jika : R/C Ratio > 1, maka usahatani jagung menguntungkan
R/C Ratio = 1, maka usahatani jagung impas
R/C Ratio < 1, maka usahatani jagung merugikan
Selanjutnya untuk mengetahui berapa besar keuntungan yang diperoleh petani pada usahatani jagung dengan menggunakan rumus Fungsi Keuntungan :
? = TR – TC
Dimana : ? : Keuntungan (Rp)/musim/Ha
TR : Total Revenue (Rp)/musim/Ha
TC : Total Cost (Rp) /musim/Ha

3. Analisis Biaya Per Unit
Untuk mengetahui keuntungan setiap unit (kilogram) usahatani jagung digunakan rumus:
Biaya/Unit = TC
Q

Dimana, TC : Total Cost (Total Biaya)
Q : Kuantitas Produk

III.5. Konsep Operasional
Untuk memudahkan pengambilan data, diwujudkan dalam konsep operasional sebagai berikut :
1. Efisiensi adalah upaya penggunaan faktor-faktor produksi yaitu lahan, benih jagung, pupuk phonska, dan tenaga kerja sekecil-kecilnya untuk mendapatkan produksi jagung yang sebesar-besarnya.
2. Usahatani jagung adalah kegiatan petani dalam mengusahakan produk jagung dengan memanfaatkan faktor produksi dan sarana produksi.
3. Petani jagung adalah petani yang memproduksi jagung untuk memenuhi kebutuhan pasar.
4. Luas lahan pertanaman jagung (X1) adalah ukuran areal yang ditanami jagung yang dinyatakan dalam hektar.
5. Benih jagung (X3) adalah biji tanaman jagung yang akan ditanam untuk menghasilkan jagung yang dinyatakan dalam kilogram, selama satu kali musim tanam.
6. Pupuk adalah bahan organik maupun an-organik yang diberikan pada tanaman jagung untuk menambah unsur hara yang dinyatakan dalam kilogram yaitu pupuk phonska (X4) selama satu kali musim tanam
7. Tenaga kerja (X2) adalah orang yang dipergunakan pada pengelolaan usahatani jagung dalam satuan HKSP, selama satu kali musim tanam.
8. Biaya variabel adalah biaya yang jumlah penggunaannya mempengaruhi produksi yang diperoleh seperti benih dan pupuk phonska.
9. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah penggunaannya tidak mempengaruhi besarnya produksi jagung, misalnya pajak lahan, penyusutan alat yang dinyatakan dalam rupiah.
10. Biaya total adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi jagung berlangsung yang terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap yang dinyatakan dalam rupiah.
11. Produksi jagung (Y) adalah jumlah fisik yang diperoleh sebagai hasil panen yang dinyatakan dalam kilogram, selama satu kali musim tanam
12. Penerimaan total adalah hasil perkalian antara jumlah produksi jagung yang diperoleh dengan harga penjualan jagung selama satu kali produksi yang dinyatakan dalam rupiah.
13. Pendapatan bersih adalah nilai penerimaan setelah dikurangi dengan biaya total yang dikeluarkan selama proses produksi jagung yang dinyatakan dengan rupiah, selama satu kali musim tanam.

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH
IV.1. Letak Geografis
Kelurahan Panreng berada dalam wilayah Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap Propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis Kelurahan Panreng mempunyai batas-batas wilayah pemerintahan sebagai berikut :
- Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Rappang
- Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Manisa
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Benteng
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Maccorawalie
Luas wilayah Kelurahan Panreng adalah kurang lebih 249,6 Ha yang terdiri dari dua lingkungan yaitu Panreng Rijang dan Panreng Lautang. Keseluruhan wilayah dapat ditempuh dengan menggunakan roda dua dan roda empat.
IV.2. Keadaan Iklim dan Topografi
Keberhasilan usahatani pada umumnya dipengaruhi oleh keadaan iklim. Iklim adalah keadaan cuaca yang meliputi daerah yang luas dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Untuk menentukan tipe iklim di Kelurahan Panreng, digunakan curah hujan selama lima tahun terakhir yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sidrap. Adapun data curah hujan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1.

Penentuan tipe iklim didasarkan pada klasifikasi menurut Schmidt Fergusson dengan rumus sebagai berikut :
Q = Rata-rata bulan kering (Bk)

Berdasarkan nilai Q yang diperoleh dari rumus tersebut, maka Schmidt Fergusson membagi tipe iklim sebagai berikut :
- Tipe A, jika 0,0 ? Q < 14,3 sangat basah
- Tipe B, jika 14,3 ? Q < 33,3 basah
- Tipe C, jika 33,3 ? Q < 66,7 agak basah
- Tipe D, jika 66,7 ? Q < 100 sedang
- Tipe E, jika 100 ? Q < 167 agak kering
- Tipe F, jika 167 ? Q < 300 kering
- Tipe G, jika 300 ? Q < 700 sangat kering
- Tipe H, jika Q ? 700 luar biasa kering
Untuk menentukan bulan kering dan bulan basah digunakan klasifikasi menurut Mohr, yaitu:
- curah hujan kurang dari 60 mm/ bulan adalah bulan kering (Bk)
- curah 60 - 100/ bulan adalah bulan lembab (Bl)
- curah hujan lebih dari 100 mm/ bulan adalah bulan basah (Bb)
Adapun rata-rata bulan kering dan bulan basah di Kelurahan Panreng dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Rata-rata Bulan Kering (BK), Bulan Lembab (BL) dan Bulan Basah (BB) di Kecamatan baranti, Kabupaten Sidrap, 2007.
Tipe Bulan Tahun Rata-rata
2002 2003 2004 2005 2006
BK 4 1 4 4 4 3,4
BL 1 4 2 4 2 2,6
BB 7 7 6 4 6 6
Sumber: BPS Kab. Sidrap, 2007.

Pada Tabel 3, terlihat bahwa rata-rata bulan kering (BK) adalah 3,4 mm dan rata-rata bulan basah (BB) adalah 6 mm, sehingga nilai Q adalah :
Q = 3,4

= 56,67%

Dengan melihat hasil perhitungan diatas, maka dapat ditentukan bahwa tipe iklim di kelurahan Panreng tergolong tipe iklim C atau beriklim agak basah.
IV.3. Pola Penggunaan Lahan

Lahan merupakan komponen dari lingkungan sebagai tempat berpijak dan melaksanakan berbagai aktivitas hidup dari manusia dan mahluk hidup lain. Lahan yang ada di Kelurahan Panreng digunakan untuk berbagai jenis pola penggunaan. Adapun pola penggunaan lahan di Kelurahan Panreng dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Penggunaan Lahan di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap, 2007.
No Penggunaan lahan Luas (Ha) Persentase(%)
1 Pemukiman 90,50 36,33
2 Pekarangan 12,50 5,02
3 Perkantoran 0,10 0,04
4 Sawah 100 40,14
5 Prasarana Umum 46 18,47
Jumlah 249,1 100
Sumber: Kantor Kelurahan Panreng, 2007.
Pada Tabel 4, terlihat bahwa penggunaan lahan terbesar adalah sawah yakni 100 Ha (40,06), kemudian pemukiman seluas 90,50 Ha (36,26%) dan yang paling kecil adalah perkantoran 0,10 Ha (0,04%). Hal tersebut menunjukkan bahwa pola penggunaan lahan di kelurahan Panreng sebagian besar digunakan untuk bidang pertanian. Ini didukung oleh keadaan iklim di Kelurahan Panreng yang agak basah sehingga memungkinkan untuk bertani, khususnya tanaman padi dan jagung.
IV.4. Keadaan Penduduk
Penduduk merupakan salah satu modal atau aset bagi suksesnya kegiatan pembangunan. Peranan yang dilakukan oleh penduduk akan dapat menentukan perkembangan wilayah pada suatu daerah, baik yang bersifat regional maupun yang bersifat nasional. Keadaan penduduk yang terdapat pada suatu daerah dapat dilihat dari berbagai segi, diantaranya jumlah penduduk menurut kelompok umur, tingkat pendidikan dan jenis mata pencaharian.

1. Penduduk Menurut Kelompok Umur
Jumlah penduduk di Kelurahan Panreng sebanyak 2.998 jiwa, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah Penduduk Menurut Umur di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap, 2007.
No Umur Jumlah Persentase
(tahun) (jiwa) (%)
1 0 – 4 408 13,61
2 5 – 9 401 13,38
3 10 – 14 372 12,41
4 15 – 19 279 9,31
5 20 – 24 230 7,67
6 25 – 29 258 8,61
7 30 – 34 226 7,54
8 35 – 39 217 7,24
9 40 – 44 196 6,54
10 45 – 49 154 5,14
11 50 – 54 131 4,37
12 55 – 59 68 2,27
13 > 59 58 1,93
Jumlah 2.998 100
Sumber: Kantor Lurah Panreng, 2007.
Pada Tabel 5 terlihat bahwa jumlah penduduk terbanyak adalah pada kelompok umur 0 – 4 tahun yaitu sebanyak 408 jiwa (13,61%) dan yang terkecil pada kelompok umur lebih 59 tahun yaitu sebanyak 58 jiwa (1,93%).
2. Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kemajuan suatu daerah. Makin tinggi pendidikan penduduk, makin muda menerima informasi dan menyerap inovasi. Adapun tingkat pendidikan penduduk di Kelurahan Panreng dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 6. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti, Kab.Sidrap, 2007.
No tingkat Pendidikan Jumlah Persentase
(jiwa) (%)
1 Buta huruf/tidak sekolah 17 0,57
2 Belum sekolah 494 16,48
3 Tidak tamat SD 185 6,17
4 Tamat SD/sederajat 905 30,18
5 SLTP/sederajat 620 20,68
6 SLTA/sederajat 723 24,12
7 Perguruan Tinggi 54 1,8
Jumlah 2.998 100
Sumber: Kantor Lurah Panreng, 2007.
Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa pada umumnya penduduk kelurahan Panreng pernah mengikuti pendidikan formal. Pendidikan formal yang terbanyak adalah sekolah dasar (SD) sebanyak 905 jiwa (30,18%) dan yang paling sedikit adalah buta huruf yakni 17 jiwa (0,57%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian penduduk di kelurahan Panreng berpendidikan.
3. Penduduk Menurut Jenis Mata Pencaharian
Penduduk di Kelurahan Panreng melakukan berbagai jenis mata pencahariannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Tabel 7. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap, 2007.
No Jenis Mata Pencaharian Jumlah Persentase
(jiwa) (%)
1 Buruh 47 5,48
2 Pegawai negeri 54 6,29
3 Pengrajin 7 0,82
4 Pedagang 30 3,5
5 Penjahit 15 1,75
6 Tukang batu 23 2,68
7 Tukang kayu 35 4,08
8 Peternak 42 4,89
9 Montir 8 0,93
10 Sopir 16 1,86
11 TNI 3 0,35
12 Pengusaha 10 1,17
13 Petani 568 66,2
Jumlah 858 100
Sumber: Kantor Lurah Panreng, 2007.
Pada Tabel 7 terlihat bahwa pada umumnya penduduk Kelurahan Panreng bermata pencaharian sebagai petani yaitu 568 jiwa (66,20%). Sedangkan jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai TNI adalah merupakan yang paling sedikit yaitu sebesar 3 jiwa (0,35%). Hal tersebut didukung oleh pola penggunaan lahan di kelurahan Panreng, dimana penggunaan lahan untuk bertani adalah yang paling luas 100 Ha (40,06%).
IV.5. Sarana dan Prasarana
Di Kelurahan Panreng tersedia sarana dan prasarana yakni antara lain bidang pertanian, kesehatan, pemerintahan, peribadatan, dan perhubungan. Untuk lebih jelasnya sarana dan prasarana tersebut dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Sarana dan Prasarana di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap, 2007.
No Sarana dan Prasarana Jumlah
(satuan)
1 Prasarana Pemerintahan:
kantor kelurahan 1 buah
2 Prasarana peribadatan :
Mesjid 5 buah
Mushollah 2 buah
3 Prasarana Pendidikan :
Sekolah TK 2 buah
SD Negeri 3 buah
SD Inpres 1 buah
SLTP Negeri 1 buah
4 Prasarana kesehatan :
poliklinik/balai pengobatan 1 unit
Posyandu 4 unit
5 Prasarana Olahraga :
Tennis meja 8 buah
Lapangan volley 5 buah
Bulutangkis 1 buah
6 Prasarana air bersih :
sumur pompa 285 unit
sumur gali 200 unit
7 Prasarana transportasi :
angkutan umum 15 buah
Ojek 50 buah
8 Prasarana ekonomi :
Koperasi 1 buah
warung makan 1 buah
Bengkel 8 buah
Percetakan 3 buah
Pasar 1 buah
Sumber: kantor Kelurahan Panreng, 2007.

Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa prasarana dan sarana ekonomi di kelurahan panreng cukup memadai untuk menunjang kelancaran aktivitas masyarakat di kelurahan Panreng. Begitu juga dengan sarana di bidang transportasi terutama karena dapat memperlancar hubungan masyarakat di kelurahan Panreng baik di dalam maupun keluar. Selain itu, dapat memperlancar pengangkutan atau pemasaran hasil usahatani ke pasar atau keluar daerah kelurahan Panreng.
V. Hasil Dan Pembahasan
V.1. Identitas Petani Responden
Identitas petani responden ditunjukkan pada Tabel 9 yang meliputi umur, pengalaman berusahatani dan jumlah tanggungan keluarga.
Tabel 9. Kisaran dan Rata-Rata Umur, Pengalaman Usahatani dan Jumlah Tanggungan Keluarga Petani Responden di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap, 2007.
No Uraian satuan Kisaran Rata-rata

1 Umur tahun 30 – 60 44,43
2 Pengalaman
berusahatani tahun 9 – 40 23,1
berusahatani jagung tahun 2 - 4 3,17
3. Jumlah tanggungan keluarga orang 3 – 6 4,03
Sumber: Data Primer Setelah Diolah,2005.
Pada Tabel 9 terlihat bahwa umur petani responden rata-rata 44,43 tahun. Pengalaman berusahatani secara umum rata-rata 23,1 tahun sedangkan pengalaman berusahatani jagung 3,17 tahun dengan jumlah tanggungan keluarga rata-rata 4 orang.
1. Umur Petani
Umur petani merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan petani dalam pengelolaan usahataninya. Hal ini apabila ditinjau menurut kemampuan fisik untuk mengetahui umur petani responden dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Jumlah Petani Responden Menurut Kelompok Umur di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap, 2007.
No Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase(%)
1 30 - 40 14 46,67
2 41 - 50 5 16,67
3 51 - 60 11 36,66
Jumlah 30 100
Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2007.
Pada Tabel 10. menunjukkan bahwa tingkat petani responden 30 -40 tahun berjumlah 14 orang atau 46,67% yang merupakan jumlah tertinggi menyusul tingkat umur 51 – 60 tahun berjumlah 11 atau 36,66 % dan yang paling kecil jumlahnya adalah tingkat umur 41 – 50 berjumlah 5 atau 16,67 %. Oleh karena usia produktif yang mendominasi responden, sehingga dapat dijadikan sebagai kekuatan dalam pengembangan komoditi jagung di masa-masa mendatang.
2. Pendidikan Petani
Tingkat pendidikan seorang petani turut memberikan pengaruh terhadap pengelolaan usahatani. Semakin tinggi tingkat pendidikan petani diharapkan semakin mudah proses adopsi, inovasi-inovasi baru baik dalam implementasi teknik budidaya yang baik, penanganan pasca panen maupun terhadap informasi-informasi yang berkembang berkaitan dengan usahataninya. 30 orang petani responden di kelurahan Panreng memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar atau sederajat.

3. Pengalaman berusahatani
Pengalaman petani dalam menjalankan usahataninya merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilannya. Semakin lama petani bekerja pada kegiatan tersebut semakin banyak pengalaman yang diperolehnya yang diharapkan akan lebih menguasai dan lebih terampil dalam teknik budidaya, teknologi pasca panen serta penguasaan teknologi lainnya yang berkaitan dengan usahataninya. Gambaran mengenai pengalaman petani jagung dilokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel berikut ini.
Tabel 11. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap, 2007.
No. Pengalaman
Berusahatani (tahun) Non Jagung Jagung
Jumlah (orang) Persentase(%) Jumlah (orang) Persentase(%)
1 < 5 0 0 30 100
2 5 – 14 5 16,67 0 0
3 15 - 30 18 60 0 0
4 > 30 7 23,33 0 0
Jumlah 30 100 30 100
Sumber: Data primer setelah diolah, 2007.
Berdasarkan Tabel 11 tersebut diatas menunjukkan bahwa pengalaman petani jagung masih relatif rendah. Pengalaman kurang dari 5 tahun memperlihatkan angka tertinggi yaitu 30 orang atau 100%. Sungguhpun demikian, dengan pengalaman yang relatif rendah petani responden pada umumnya memahami teknik budidaya komoditi jagung. Pengalaman berusahatani ini cukup memadai dan dapat dijadikan sebagai penunjang dalam pengembangan komoditi jagung di kelurahan Panreng.
4. Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga responden terdiri dari petani itu sendiri, istri, anak dan anggota keluarga lainnya yang menjadi tanggungan petani. Jumlah anggota keluarga petani akan berpengaruh bagi petani dalam perencanaan dan pengambilan keputusan petani dalam hal usahataninya, karena anggota keluarga petani dapat merupakan sumber tenaga kerja dalam kegiatan usahatani jagung terutama anggota keluarga yang produktif. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah petani responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga petani jagung dapat dilihat pada Tabel berikut ini.
Tabel 12.Jumlah Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap, 2007.
Jumlah Tanggungan Keluarga Jumlah Responden Persentase
(orang) (orang) (%)
3 – 4 21 70
5 – 6 9 30
Jumlah 30 100
Sumber: Data Primer Setelah di Olah, 2005.
Berdasarkan Tabel 12 tersebut diatas menunjukkan bahwa jumlah anggota petani yang terbanyak adalah 3 sampai 4 orang adalah 21 orang atau 70 %. Jumlah tanggungan keluarga pada umumnya dapat dijadikan sumber tenaga kerja dalam usahatani jagung. Dengan demikian kebutuhan akan tenaga kerja dapat dipenuhi dalam keluarga, sehingga secara tidak langsung mengurangi pengeluaran tunai dalam proses usahatani.
V.2. Keadaan Usahatani Petani Responden
Kegiatan usahatani petani responden dilakukan diatas lahan sawah yang tergolong sempit yakni kurang dari 1 Ha dengan luas lahan yang bervariasi antara 0,15 – 0,90 Ha. Adapun lahan yang dikelola oleh petani responden adalah merupakan lahan milik sendiri dengan rata-rata luas lahan o,42 Ha.
Pengolahan usahatani menggunakan peralatan mulai pada saat pengolahan tanah/lahan, pemeliharaan dan penyiraman sampai saat panen dan pembersihan lahan.
Nilai penyusutan alat tergolong dalam biaya tetap, yaitu biaya yang penggunaannya tidak habis dalam satu masa produksi. Jenis rata-rata nilai penyusutan alat dari petani responden dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 13. Jenis dan Nilai Penyusutan Rata-rata Peralatan Usahatani Petani Responden di Kel. Panreng Kec. Baranti Kab.Sidrap, 2007.
No Jenis Alat Nilai Penyusutan Alat Persentase
(Rp) (%)
1 Cangkul 7.556,39 2,04
2 Pompa Air 354.166,67 95,63
3 Sekop 3.573,74 0,96
4 Parang 5.040,28 1,37
Jumlah 370.336,68 100
Sumber: Data Primer Setelah Diolah,2007.
Pada Tabel 13. menunjukkan bahwa jumlah rata-rata dari nilai penyusustan alat yang digunakan petani dalam usahataninya adalah Rp.370.336,68. nilai penyusutan terbesar pada pompa air. Alat ini digunakan untuk menyiram tanaman.
Salah satu faktor produksi yang penting dalam pengelolaan usahatani adalah penggunaan tenaga kerja. Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani petani responden adalah tenaga kerja dalam keluarga. Tenaga kerja tersebut terdiri dari pria, wanita dan anak-anak. Dimana tenaga kerja pria dalam satu hari dinyatakan dalam 1 HKSP (hari kerja setara pria), tenaga kerja wanita dinyatakan dalam 0,7 HKSP dan tenaga kerja anak-anak dinyatakan dalam 0,5 HKSP (Soekartawi, 2003).
Upah tenaga kerja dalam keluarga diperoleh dari hasil perkalian antara upah minimum regional (UMR) dengan jumlah HKSP. Upah minimum regional di propinsi sulawesi selatan adalah Rp.15000/hari. Jenis pekerjaan sebagai rangkaian dalam memproduksi jagung. Jumlah HKSP dan upah tenaga kerja rata-rata dari usahatani petani responden untuk jagung dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Jenis Pekerjaan, Jumlah HKSP dan Nilai Upah Rata-Rata Usahatani Jagung Petani Responden di Kelurahan Panreng, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap, 2007.
No. Jenis Pekerjaan Jumlah HKSP Nilai Upah (Rp) Persentase (%)
1 Penyiapan lahan 6,5 97.500,- 16,36
2 Penanaman 4,26 64.000,- 10,74
3 Penyiangan 6,06 91.000,- 15,27
4 Pemupukan 5,03 75.500,- 12,67
5 Pemanenan 8,41 126.250,- 21,18
6 Pengeringan 2,23 33.500,- 5,62
7 Pemipilan 7,21 108.250,- 18,16
jumlah 39,7 596.000,- 100
Sumber: data Primer Setelah diolah, 2007.
Pada Tabel 14 terlihat bahwa para petani responden dalam proses produksi jagung menggunakan tenaga kerja dalam keluarga rata-rata 39,7 HKSP dengan nilai upah Rp. 596.000,-.
V.3. Biaya,Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Jagung Petani Responden
Komponen biaya usahatani jagung meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Penerimaan adalah hasil kali jumlah produksi dengan harga komoditas, sedangkan pendapatan bersih berasal dari selisih antara penerimaan dan biaya produksi.
1. Biaya Usahatani jagung
Biaya produksi jagung adalah biaya yang dikeluarkan petani responden jagung selama proses produksi sehingga menjadi produk jagung. Biaya ini meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variabel cost). Biaya tetap adalah biaya yang penggunaannya tidak habis dalam satu masa produksi. Biaya tetap dalam usahatani jagung ini meliputi pajak lahan, penyusutan alat dan upah tenaga kerja dalam keluarga.
Biaya variabel adalah biaya yang penggunaannya sangat tergantung pada skala produksi dan habis dalam satu masa produksi. Biaya variabel dari usahatani meliputi biaya untuk bibit dan pupuk. Biaya usahatani jagung dari petani responden dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Jenis Biaya dan Nilai Biaya Rata-Rata Jagung Petani Responden di Kel. Panreng Kec. Baranti Kab. Sidrap, 2007.
No. Jenis Biaya Nilai Biaya (Rp)
1 Biaya variabel
Bibit 117.200,-
pupuk phonska 248.154,84
Total biaya variabel (1) 365.354,84
2 Biaya tetap
penyusutan alat 370.336,68
pajak lahan 6.328,33
upah tenaga kerja dalam keluarga 596.000,-
total biaya tetap (2) 972.665,01
3 Biaya Total (1+2) 1.338.019,85
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2007.
Pada Tabel 15 terlihat bahwa besarnya biaya variabel adalah Rp.365.354,84 dan biaya tetap sebesar Rp.972.665,01 sehingga diperoleh biaya total yang dikeluarkan petani responden rata-rata Rp. 1.338.019,85.
2. Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Jagung
Biaya usahatani jagung sebesar Rp. 1.338.019,85 sedangkan penerimaan dari usahatani jagung petani responden sebesar Rp. 3.386.666,67 seperti yang disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16. Nilai Penerimaan, Biaya dan Pendapatan Rata-Rata dari usahatani Jagung Petani Responden di Kel.Panreng Kec.Baranti Kab.Sidrap, 2007.
No. Uraian Nilai (Rp)
1 Penerimaan 3.386.666,67
2 biaya total 1.338.019,85
3 pendapatan bersih (1-2) 2.048.646,82
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2007.
Pada Tabel 16 dapat diketahui bahwa pendapatan bersih dari usahatani jagung diperoleh petani responden adalah Rp. 2. 048.646,82.
V.4. Keuntungan Usahatani Jagung Petani Responden
Keuntungan usahatani jagung dapat diketahui dengan analisis R/C ratio dan fungsi keuntungan, keuntungan per unit dianalisis dengan analisis biaya per unit.
1. Analisis R/C Ratio
Untuk mengetahui apakah usahatani jagung petani responden menguntungkan atau tidak digunakan analisis R/C Ratio dengan hasil :
R/C Ratio = Total Revenue
Total Cost

= 3.386.666,67
1.338.019,85

= 2,53

Nilai R/C Ratio dari usahatani jagung adalah 2,53 berdasarkan kriterianya nilai R/C Ratio > 1 berarti suatu usahatani menguntungkan. Nilai tersebut memberikan arti bahwa setiap pengeluaran sebesar 1 rupiah akan memberikan penerimaan sebesar 2,53 rupiah. Dengan demikian usahatani jagung petani responden layak untuk dikembangkan.
2. Analisis biaya per unit
Analisis biaya per unit digunakan untuk mengetahui keuntungan setiap kilogram produk jagung dengan membandingkan harga jual dan biaya produksi dari setiap kilogram jagung. Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil :

Biaya/unit= Biaya Total (Total cost)
Kuantitas produk

= 1.338.019,85
2.116,67 kg

= 632,13/kg

Keuntungan = 1600 – 632,13

= 967,87/kg

Dengan demikian untuk memproduksi 1 kg jagung dikeluarkan biaya sebesar Rp.632,13/kg sehingga dari hasil penjualan diperoleh keuntungan sebesar Rp.967,87/kg.
V.5. Analisis Faktor-Faktor Produksi Usahatani Jagung Petani Responden

Melalui analisis fungsi produksi Cobb-Douglass pada usahatani jagung petani responden, dapat diketahui pengaruh panggunaan faktor-faktor produksi, skala ekonomi usaha, dan efisiensi penggunaan faktor produksi.
1. Pengaruh Penggunaan Faktor Produksi
Pengaruh penggunaan faktor produksi pada usahatani jagung dapat diketahui melalui analisis fungsi produksi cobb douglass. Dengan analisis fungsi produksi ini, melalui nilai koefisien regresi (elastisitas) dapat diketahui seberapa besar pengaruh input atau faktor produksi yang diberikan terhadap jumlah produk yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui nilai koefisien regresi (bi) atau nilai elastisitas dari masing-masing faktor produksi seperti pada Tabel 17. dan berdasarkan nilai elastisitas tersebut dapat pula dilihat skala ekonomi produksi jagung petani responden.
Tabel 17. Nilai Koefisien Regresi dan Rata-Rata dari Masing-masing Faktor Produksi Usahatani Jagung Petani Responden di Kel.Panreng Kec. Baranti Kab.Sidrap, 2007.
Faktor Produksi (Xi) Koefisien Regresi (bi) Rata-Rata T.hitung
Luas lahan (x1) 0,801 -0,42 5,98
Tenaga kerja (x2) -0,034 1,56 -0,72
Benih (x3) 0,018 0,71 0,27
Pupuk phonska (x4) 0,217 1,85 2,21
Jumlah 1,002 3,7 7,74
Sumber: Data primer setelah diolah,2007.
Koefisien korelasi (R) = 0,98
Koefisien determinasi (R2) = 0,96
Keterangan :
F hitung = 7156,522
t tabel (0.05,30) = 1,70
Dari Tabel 16, diperoleh persamaan fungsi produksi Cobb-Douglass yaitu : Y = 3,252 X10,801 . X2-0,034 . X30,018. X40,217
Selanjutnya diperoleh koefisien determinasi (R2) = 0,96 yang berarti koefisien determinasi 96 persen. Keberadaan variabel tidak bebas (Y) dijelaskan oleh variabel bebas secara bersama-sama dan selebihnya yaitu empat persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam variabel pengamatan. Hubungan antara variabel bebas dan variabel tidak bebas dapat diketahui melalui koefisien korelasi (R) yang bernilai 0,98 yang berarti memiliki hubungan yang kuat.
2. Skala Ekonomi Usaha (Return to scale)
Return to scale perlu untuk mengetahui apakah kegiatan dari suatu usaha yang diteliti tersebut mengikuti kaidah increasing, constant, atau decreasing return to scale. Jumlah besaran elastisitas b1 adalah lebih besar dari nol dan lebih kecil dari nol serta sama dengan satu.
Diketahui jumlah besaran elastisitas b1 =1,002 yang berarti nilai tersebut lebih besar dari satu. Dengan demikian elastisitas penggunaan faktor produksi berada dalam posisi increasing return to scale. Artinya bahwa proporsi dari penambahan faktor produksi akan menghasilkan pertambahan produksi yang lebih besar atau penambahan satu unit faktor produksi akan memberikan tambahan produk lebih besar dari 1,002 kilogram jagung.
Sedangkan hasil uji F yang menjelaskan hubungan antara produk dan faktor produksi secara bersama-sama diperoleh F hitung = 7156,522 sedangkan F tabel pada taraf 5 persen sebesar 2,76 dan F tabel pada taraf 1 persen sebesar 4,18 artinya faktor produksi mempunyai pengaruh yang sangat nyata terhadap produk yang diperoleh, karena F hitung lebih besar dari F tabel.
Pengaruh masing-masing faktor produksi dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Luas Lahan
Berdasarkan hasil uji t pada taraf kepercayaan 95 persen menunjukkan bahwa penggunaan luas lahan mempunyai pengaruh yang nyata, karena t hitung lebih besar dari t tabel (5,98 > 1,70). Besaran elastisitasnya (b1) menunjukkan bahwa penambahan satu are luas lahan dapat memberikan tambahan produk jagung sebesar 0.801 kilogram. Dengan demikian luas lahan berpengaruh positif terhadap produksi jagung.
b. Tenaga Kerja
Hasil uji t menunjukkan bahwa tenaga kerja dalam keluarga berpengaruh tidak nyata karena t hitung lebih kecil dari t tabel pada taraf kepercayaan 95 persen yaitu -0,72 < 1,70. Besaran elastisitasnya (b2) menunjukkan bahwa penambahan tenaga kerja setiap satu HKSP dapat menurunkan produksi sebesar 0.03 kilogram.
c. Benih
Hasil uji t pada taraf kepercayaan 95 persen menunjukkan pengaruh penggunaan benih yang tidak nyata yaitu 0,27 < 1,70 (t hitung < t tabel). Besaran elastisitasnya (b3) menunjukkan bahwa penambahan satu kilogram benih jagung dengan luas lahan 0,42 Ha akan memberikan tambahan produksi sebesar 0.01 kilogram. Dengan demikian penggunaan bibit berpengaruh positif terhadap produksi jagung.
d. Penggunaan pupuk phonska
Berdasarkan hasil uji t menunjukkan bahwa t hitung lebih besar dari t tabel pada taraf kepercayaan 95 persen yaitu 2,21 > 1,70. Artinya penggunaan pupuk phonska berpengaruh nyata terhadap produksi jagung. Besaran elastisitasnya (b4) menunjukkan bahwa penambahan 1 kilogram pupuk phonska akan memberikan tambahan produksi sebesar 0,217 kilogram jagung dengan luasan lahan 0,42 Ha. Dengan demikian penggunaan pupuk phonska berpengaruh positif terhadap produksi jagung.
3. Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi
Efisiensi dapat diartikan sebagai upaya penggunaan input yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan produksi yang sebesar-besarnya. Efisiensi penggunaan faktor produksi dapat dihitung dengan menggunakan efisiensi harga yaitu nilai produk marginal input (NPMXi) sama dengan harga input (PXi) (Soekartawi, 1999).
Dengan kriteria penilaian :

Jika NPMXi/PXi = 1 penggunaan faktor produksi efisien
NPMXi/PXi > 1 penggunaan faktor produksi belum efisien
NPMXi/PXi < 1 penggunaan faktor produksi tidak efisien
Tabel 18. Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Pada Usahatani Jagung di Kel.Panreng Kec.Baranti Kab.Sidrap,2007.
Faktor Produksi NPMXi/PXi Keterangan
Luas lahan (x1) 10,11 belum efisien
Tenaga kerja (x2) -1,19 tidak efisien
Penggunaan benih (X3) 0,52 tidak efisien
Penggunaan pupuk phonska (x4) 5,73 belum efisien
Sumber : data primer setelah diolah, 2007.
Berdasarkan Tabel 18, diketahui bahwa rasio antara nilai produk marginal dari faktor produksi luas lahan adalah lebih besar dari satu (10,11). Hal itu menunjukkan bahwa secara ekonomis alokasi faktor produksi belum efisien. Dengan demikian jel;aslah bahwa jika saja masih dapat dilakukan penambahan alokasi penggunaan luas lahan garapan usahatani, maka petani di kelurahan panreng masih akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi.
Rasio antara NPM dari faktor produksi tenaga kerja dengan harga per HKSP-nya adalah lebih kecil dari satu (-1,19) itu berarti tidak efisien karena tenaga kerja yang digunakan telah melebihi optimum. Dengan demikian usaha untuk meningkatkan keuntungan para petani di kelurahan Panreng hanya dapat dilakukan dengan jalan mengurangi pengalokasian faktor produksi tenaga kerja.
Rasio antara NPM dari faktor produksi benih jagung kurang dari satu (0,52) hai ini berarti faktor produksi benih jagung tidak efisien. Karena benih yang digunakan telah melebihi optimum, untuk itu usaha untuk meningkatkan keuntungan para petani dapat dilakukan dengan mengurangi benih jagung yang digunakan.
Rasio antara NPM dari faktor produksi pupuk phonska lebih besar dari satu (5,73). Berarti penggunaan pupuk phonska masih belum efisien. Dengan demikian usaha untuk meningkatkan keuntungan para petani di kelurahan Panreng dapat dilakukan dengan menambah penggunaan pupuk phonska untuk memperoleh efisiensi.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN
VI.I. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap petani responden yang mengelola usahatani jagung di Kelurahan Panreng, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: :
1. Usahatani jagung yang diusahakan petani di Kelurahan Panreng Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap menguntungkan.
2. Skala ekonomi untuk usaha rumah tangga dalam faktor produksi; lahan, tenaga kerja benih dan pupuk phonska pada usahatani jagung berada dalam keadaan increasing return to scale.
3. Penggunaan faktor-faktor produksi yang belum efisien adalah luas lahan dan pupuk phonska, sedangkan yang tidak efisien dari tenaga kerja dan penggunaan benih.
VI.II. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh,maka:
1. Disarankan kepada petani yang mengusahakan jagung agar dapat mengurangi penggunaan faktor produksi yang tidak efisien, sehingga upaya peningkatan produksi dan pendapatannya dapat dioptimalkan.
2. Rekomendasi penelitian ini kiranya dapat dijadikan sebagai salah satu bahan penyuluhan bagi PPL kepada petani yang ada di wilayah kerjanya masing-masing.

0 comments:


Post a Comment